Posted in Tulisan

R U A N G

Jarak adalah ruang sela antara dua objek atau lebih (KBBI). Sedangkan ruang adalah tempat di mana segala unsur menempatkan posisi mereka dalam porsinya. Ruang adalah sesuatu yang tak kunjung habis bila harus kita jadikan renungan diplomatis, dimana ruang adalah unsur semua kehidupan tercangkup di dalamnya, dalam fisika para ilmuwan sedang mencari Tuhan dalam sebuah ruang, biarkan mereka bekerja sesuai tugasnya dan untuknya kita tak akan membahas tentang ruang. Mari kita berbicara soal yang lebih sederhana : JARAK Continue reading “R U A N G”

Posted in Tulisan

DARI HUJAN

Aku adalah Hujan, Bila tidak suka silahkan berteduh. Kau bebas menggunakan payung ataupun jas hujan untuk menjagamu dari kedinginan. Masih banyak teras rumah untuk Kau singgah bila Kau takut basah. Kau bisa berhenti dari perjalananmu ketika hadirku mengganggu pandanganmu dan Kau pun bisa memakiku. Kau bisa mencelaku, mengadu kepada Tuhanmu untuk kepergianku. Kau mengusirku, seolah aku adalah parasitisme pengganggu, lantas Kau menatap langit penuh dengan rasa amarahmu dan mengumpat kepadaku.
Maaf, bila hadirku di pagi hari membuat aktifitasmu terbebani, hingga ucapan selamat pagi dari terkasihmu berganti pesan penuh dengan tanda seru, Kau pun tetap menyalahkanku. Perlahan umpatanmu menghilang kala malam menjelang dan aku kembali datang, Kau telah sibuk dengan mimpi yang tenang, tampak kecewamu telah tertukar dengan senyummu. Namun tak beranjak lama ketika pagi tiba, Kau kembali seperti sedia kala, menatapku penuh cela.
Apakah aku akan berhenti datang ? Tidak !!! pada dukamu, ada beberapa orang yang menaruh suka kepadaku, mereka memujiku dengan secangkir kopi di kala sendu. Dikala aku tiba, mereka bersiap dengan beberapa buku dan pena, ada diantara mereka yang menulis cerita tentang perasaannya, tentang sepi, patah hati, atau tentang hujan di sore hari, katanya setiap hadirku selalu menambah pilu untuk dituang kedalam buku. Diantara mereka ada pula yang bermandi riang dikala aku datang, Bau tanah yang ku ciptakan seakan mampu menghipnotis suasana obrolan, mereka mendadak terdiam, kedua tangannya bersatu, pikiriannya menerawang tak tentu. Mereka lah orang-orang yang selalu menghargai setiap kedatangan.

Untukmu yang membenciku…


Cacilah aku sesukamu, makilah aku sampai habis semua sarkasmu, tapi pernahkah kau berpikir, bahwa hadirku pasti akan menuai akhir ? Bukankah setiap kedatangan selalu berujung kepulangan ? Aku hanya singgah sementara, mengusik nyamanmu sebentar saja, bila kau tetap tak suka, bersamalah orang-orang yang berkumpul melantunkan do’a agar aku hilang seketika, tapi sadarlah, aku tak sepenuhnya berpihak kepadamu, aku akan tetap datang meski kalian berharap aku menghilang. Satu saja pertanyaanku, kenapa kau menjual namaku, atas nama rasa kepada kekasihmu ? Terkadang kau terlalu aneh, mencintai pelangi namun aku kau benci, bagaimana pelangi bisa ada tanpa aku mendahuluinya ?

Untukmu yang menyukaiku…


Aku akan terus bersamamu, melengkapi setiap inspirasi dalam secangkir kopi, aku akan selalu menjadi panaroma yang indah dipandang, meskipun hanya lewat kaca yang membentang. Tertawalah saat aku menyapamu, mungkin kalian sudah ditelan rindu akan kedatanganku, bersama hangatnya api, aku mampu menjadi teman dalam setiap cerita yang kau bagi. Beberapa sajak tentangku telah dibaca oleh ratusan manusia, terkadang mereka terbawa suasana, hingga tak terasa lingkar peluk kekasihnya semakin melekat di pingganggnya. Terimakasih Kau telah mencintaiku, aku akan hadir dalam setiap selimutmu, memberikan rasa nyaman dalam lautan impian.

Dariku, teman lamamu.
Hujan.

Posted in Tulisan

Kapan Kamu Menikah ? part II

Lebaran segera menjelang ! Suasana hari kemenangan akan selalu diselimuti oleh rasa rindu yang terbendung setelah nafsu kian lama terkurung. Mereka di luar kota berusaha pulang kepada keluarga, Mereka yang pergi akan datang kembali, mereka yang sedang diperantauan akan pulang ke tanah halaman, semua dirangkul dalam haru dan rindu menjadi satu. Continue reading “Kapan Kamu Menikah ? part II”

Posted in Tulisan

Before You Go

Merpati adalah lambang pemersatu hati, lambang kesetiaan yang tak pernah diragukan, seekor merpati enggan jatuh cinta kembali setelah ia menemukan satu hati, Ia akan memilih menua sendiri hingga mati daripada harus berbagi hati kembali.

Seperti itulah engkau, merpatiku. Selalu menemani menulis cerita dalam hariku, laksana hanya sebuah goresan pena, dan kau adalah pensil pemberi warna, memberi warna dalam setiap sketsa, engkau adalah senyuman yang bertebaran dalam kabut duka kehidupan, seperti itulah engkau, merpatiku.

Dan Bagaimana dengan aku ? 

Mungkin, bagimu aku pun adalah merpatimu, tapi tidak bagiku, aku adalah serigala yang selalu menerkam mangsa, tinggal bersamaku hanyalah menunggu waktumu, kau akan terkoyak dengan kuku tajamku, hingga sayapmu penuh luka, kau tak akan bisa mengudara. Kenapa kau memilih hidup bersamaku ? Bahkan kau mempunyai impian untuk tinggal dalam satu atap hunian ? Bukankah seorang merpati haruslah hidup dengan merpati ? Mencipta kisah indah tanpa sedikitpun gelisah.

Menggenggam tangan adalah simbol kebersamaan, tapi Aku adalah duri, menggenggamku, kau hanya akan melukai diri, memelukku kau hanya kan merajam hati, penuh luka kau tak akan temukan bahagia, rumahku yang kau tempati tak lagi layak kau singgahi, beberapa kali hujan masuk tanpa mengucap permisi, atapnya telah rentan akan hujan, dan kau adalah orang yang terlalu takut akan hujan, Seharusnya kau tinggal dalam balutan selimut kehangatan, bukan dekapan untuk melawan kedinginan.

Merpatiku, kini sudah saatnya kau terbang dari sangkarmu, aku akan melepas rantai yang mengikat kakimu, Kau bebas terbang melintang mencari hati yang lapang, kau harus bebas dari dekapan duka. Bersamaku kau hanya akan menulis cerita pedihmu, kau tak pernah bisa menemukan bahagia, sebab bukanlah di sini tempatmu menanam bahagia.

Kau mungkin mengelak, dan berkata Aku bahagia bersamamu, kau bohong dan kau bukan orang yang pandai berbohong, kerap kali dalam tidurmu, aku menjumpai jatuhnya air matamu, mengisak tangis pertanda hatimu kian teriris, menahan luka hanya untuk membuatku tertawa.

Terimakasih untukmu merpatiku, kau telah bertahan menahan sayatan dan gorenan, entah berapa kali aku melukai, kau tetap berada di sini menemani. Namun manusia selalu mencari kebaikan setiap harinya, begitupun aku, aku tak bisa membiarkan kau terluka kembali, seberapapun aku mengharapmu, aku harus melepasmu. Temukan sepasang merpati yang bisa kau ajak untuk berbagi hati, aku hanyalah orang yang berego tinggi, hatimu akan patah berkali-kali bila kau memilih tinggal di sini.

Sebelum engkau beranjak pergi, ingatlah bahwa kita bukanlah hati yang saling memahami, kita hanyalah hati yang saling melukai, kita bukanlah hati yang saling menggenapi, kita hanyalah hati yang saling menahan diri. 

Merpatiku, kelak jikalau kau telah temukan sepasang hati, secara tidak sengaja kau akan teebang melintasi rumah ini, singgahlah, entah aku masih di sini atau telah beranjak pergi, paling tidak sedikit mengobati rasa lelah dalam melangkah, paling tidak kau mengingat tentang seseorang yang pernah berusaha membuatmu bahagia, tentang seseorang yang berusaha mendekapmu namun justru melukaimu.

Terbanglah, merpatiku…

Han Y. Rahmat

Posted in Tulisan

Asmara Tak Bertanda

Apakah kau percaya pada sebuah kebetulan ? Banyak orang berkata kebetulan hanyalah moment ketika sesuatu terjadi diluar kata kesengajaan. Banyak pula yang berkata kebetulan adalah kebenaran yang dipaksakan. Tapi tidak bagiku Kebetulan adalah bagian dari sesuatu yang telah direncanakan, hanya saja kita belum menyadarinya, sebab dalam kebetulan selalu ada campur tangan dari kuasa Tuhan, seperti kehadiranmu, seorang perempuan diujung perahu, tepat berada di hadapanku, mataku tak jengah untuk selalu menatap malu kepadamu, bagai seorang pencuri yang selalu mencari celah agar pemiliknya tak menyadari, beberapa kali kau membalas tatapanku, dengan secepat kilat selalu ku alihkan pandanganku, berharap Kau tak tahu jika di depanmu ada seseorang yang begitu memperhatikanmu. Hanya sebentar Kau menatapku, sebab matamu tak pernah mau diusik untuk sebuah pemandangan yang begitu asik, tak jemu selayang pandang matamu memandang ke arah lautan lapang, seolah sekecil partikel pun tak ada yang berlalu dari tatapan matamu, entah darimana asalmu, dan kenapa Tuhan meletakanmu pada sebuah perahu yang didalamnya pun ada Aku ? Kau bisa saja di atas perahu lainnya, duduk pada bangku tanpa ada seseorang yang memperhatikanmu, ini kah sebuah kebetulan ? Atau inikah cara Tuhan, untuk tetap membuat jantung berirama tak karuan ?
Continue reading “Asmara Tak Bertanda”

Posted in Tulisan

Hampa

Gerimis di malam hari, adalah intuisi yang selalu ku jumpai saat menanti sesuatu yang tak kunjung terpenuhi, mengalun pilu, menyendu menunggu kabarmu diantara rutinitasmu. Ya kabar, hanya kabar, itu saja. Mungkinkah kau sanggup memberi ? Atau hanya ribuan caci maki ? Bila memberi kabar bagimu adalah seperti memberi recehan untuk peminta-minta, maka aku bersedia berlutut setiap hari, menengadah meminta setulus hati. Cuih.. Mungkin itulah yang hendak kau beri, namun sayang hanya kau pendam dalam hati. Sampai kapan aku menunggu ? Sampai lelah menjadi jenuh, untuk waktu yang telah berpeluh ? Tapi tenanglah itu tugasku, aku lah yang memilih untuk tetap menunggu.
Continue reading “Hampa”

Posted in Tulisan

Mantra Jiwa

​…

“Love is one big illusion, I should try to forget

But there is something left in my head..”

Lyric by Michael Learn To Rock – That’s Why

Secangkir Kopi dan deru angin, keduanya sama-sama dingin hening tak bergeming, tenggelam dalam alunan rinai hujan yang meyeruak membentur dinding kenangan, dialah serdadu yang tak pernah sopan, menerobos pintu hati yang tak pernah mengucap permisi. Sama seperti bayanganmu, datang tak pernah diundang, pergi tanpa permisi, kemudian berujung rasa yang tereliminasi. Diam-diam hujan membawamu kepada lamunan, menguak luka yang masih menganga, Continue reading “Mantra Jiwa”