Posted in Novel

Kopi Kaiya

K-O-P-I sebuah kata yang mengawaliku untuk menuliskan cerita ini kembali, Kopi mungkin tengah akrab di lidah dan hidung Kita semua, bagaimana secangkir kehangatannya mampu menghipnotis bagi para penikmatnya, diantara mereka ada penggila rasa pahitnya, penggila aromanya, ada pula diantara mereka penggila keduanya, aku rasa sah-sah saja mereka mengagumi apa yang mereka suka sehingga mereka menyebut dirinya “penikmat kopi”, lalu bagaimana dengan aku ?
Continue reading “Kopi Kaiya”

Advertisements
Posted in Novel

SABRANG

Jaman dulu pada tahun 1950-an, ketika belum banyak sekolah berdiri, pendidikan hanya sampai pada tingkat dasar, mereka yang mampu bisa melanjutkan ke jenjang berikutnya, bagi yang tidak, cukuplah pendidikan dasar menjadi modal untuk menyambung hidup melalui dunia pendidikan, sedang Saya bersekolah di sekolah rakyat, sekolah yang setara dengan kelas menengah, bedanya sekolah ini ketika lulus sudah bisa menjadi guru pengajar, sekolah rakyat adalah sekolah elite milik pemerintah pada waktu itu, saya di sini bukan karena Saya adalah orang yang mampu, orang tua Saya hanyalah seorang petani, yang membuat Saya bisa duduk di bangku sekolah rakyat adalah peran dari pemerintah setempat yang menyekolahkan Saya sebagai wakil dari desa yang dipercaya mampu untuk mengemban dunia pendidikan yang lebih tinggi. Continue reading “SABRANG”