Posted in Tulisan

Hujan Bersama Anak Gunung

“Lihatlah hujan datang Bu ! Darimanakah asalnya ? Apakah langit tengah menangis, Bu ?”, tanya seorang anak yang tinggal di pegunungan kepada ibunya.

Ibunya hanya tersenyum mendengar pertanyaan anaknya, sekali kepalanya diusap untuk sebuah tanda kasih sayang.
Sebelum hujan datang, langit tengah tertutup oleh awan gelap di ujung gunung tempat mereka tinggal, tampaknya dia anak kecil itu tengah membantu ibunya mengikat kayu bakar kering setelah dijemur untuk keperluan dapur.

“Bergegas nak, hujan segera tiba, agar tak percuma kayu ini yang telah kita jemur”, kata ibunya.

Dia hanya mengangguk-angguk saja, sambil terus sibuk menumpuk kayu untuk diikat ibunya, dan tampaknya sudah terikat semua kayu-kayu itu dan siap untuk dibawa ke dalam rumah.

Hujan benar tak ingin menunggu, sesegera mungkin dia berlari bersama ibunya, separuh bajunya terlihat telah basah, dia berlari ke dalam rumah, khas aroma tanah yang terguyur hujan tengah tercium rongga hidungnya, perlahan dia merasakan dingin yang menyentuh kulitnya, setelah menyalakan lampu “ublik” dia beranjak duduk di kursi dekat dengan jendela.

Sedang ibunya terlihat sibuk menyalakan api untuk memanaskan air, maklumlah di dalam rumah mereka belum ada listrik, lampu minyak adalah satu-satunya penerangan yang bisa diandalkan.

Dagunya ditaruh pada punggung telapak tangannya, melamun, entah apa yang dipikirkan seorang anak yang berusia 8 tahun, seusianya harusnya dia belajar untuk sebuah nilai di sekolah, tapi dia tak bersekolah, bukan dia tak mau, hanya saja biaya yang mahal dan jarak sekolah yang jauh  dari desanya membuat pendidikan tak dia anyam dalam bangku sekolah.

Tiba-tiba ibunya datang dari belakang, tampak “jarik lurik” atau kain batik jaman dahulu melingkar di lehernya, sambil membawa piring dengan ketela rebus, dia meletakkan di meja dekat dengan anaknya.

Wajahnya tampak samar berhadapan dengan lampu minyak yang kesana-kemari tertiup angin. Tidak jarang setiap hari menjelang malam seperti ini, terlebih saat hujan ibunya selalu menceritakan dongeng kepadanya, entah cerita fabel, mitos ataupun karangan ibunya sendiri, ibunya hanya ingin anaknya tertawa dan terlelap dalam sebuah cerita. Dia pun terlelap. 

Sebelum fajar menjelang, Dia tengah bangun, menemani ibunya menanak nasi, sambil sebisanya Dia membantu, entah hanya mengambilkan air untuk ibunya, sisa-sisa hujan semalam masih ada dalam sebuah genangan air di luar rumah, pagi bercampur kabut dengan asap-asap dari dapur, bila terlihat dari atas, akan seperti lukisan indahnya. Dia sibuk mendengarkan gemericik air yang mengalir di sungi dekat dengan rumahnya, sementara burung-burung bercuit diantara pohon-pohon bambu yang tumbuh dihilir sungai. Sarung yang melingkar dilehernya belum ingin dia lepas, sebab di liar rumah masih teramat dingin untuk keaibukan mengeluarkan seekor ayam betina yang dia pelihara penuh kasih sayang, ayamnya tengah bertelur, dia amat menyukainya, sampai-sampai dia tak memperbolehkan ibunya mengambil sebutir telur untuk lauk makannya, katanya dia ingin melihat anak-anak ayamnya menetas banyak, dan induknya tidak kesepian lagi setiap harinya, seperti halnya dia yang selalu ada di samping ibunya. 

Begitulah harinya setiap hari yang Dia jalani, hingga hujan tengan membuat hari itu dingin sekali, ibunya sedang tak enak badan, untuknya dia membuat jamu untuk ibunya yang sedang sakit, dari arahan ibunya, kunyit adalah bahan utama dari jamu tersebut, harusnya telur adalah pelengkap dari jamu yang dia buat, namun ibunya tak berani menghalangi keinginan anaknya untuk melihat anak-anak ayam tumbuh besar, sehingga dia memutuskan untuk tidak berkata apa-apa. Tapi tiba-tiba dia mengambil sebutir telur, untuk jamu ibunya.

“Diberi telur juga kan bu ? Kata Bu Dedeh dulu waktu ali sakit dibuatkan jamu dari kunyit dan diberi telur sebutir, benar kan bu ?”.

Ibunya diam sejenak, “Lalu bagaimana dengan anak-anak ayam yang ingin kau lihat nak ? Tidak usah diberi telur pun tak apa-apa, katanya kau ingin melihat anak-anak ayam bersama induknya ?”.

“Tapi ibu sedang sakit, ayamku akan tetap bertelur dan ibu pun tetap harus sembuh, agar ibu juga bisa melihat anak ayam yang menetas”, katanya.

Betapa pilu hati ibunya mendengar jawaban anak yang tak mengayam dunia pendidikan, lantas darimana dia mampu berkata sedemikian ? Mungkin benar Alam-lah yang tengah mengajarkan kepadanya.
Anak gunung

Han y. rahmat

Advertisements

Author:

I'm Textrovert. Seseorang yang begitu mudah menuliskan namun begitu susah mengungkapkan. Pengagum senja di pangkuan buku dan pena. Tentu saja dengan secangkir teh di samping tangan kanannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s