Posted in Uncategorized

Dialog yang ingin menjadi panjang

Detik menghempas berhenti pada masa tengah lewat dini hari, hening suasana dingin tengah menyelimuti, sembari itu aku melirik arlojiku, tepat setengah satu sepertiga malam yang pertama, tetiba samar di depanku kau tengah terlelap dalam tidurmu, kau terlihat begitu nyaman dalam pelukan, terbenam dalam pundakku sementara tanganmu melingkar di dadaku, dalam tidurmu kau masih tampak baik-baik saja, setelah lelah kau berperan dalam naskah drama sang maha Kuasa. Pelan-pelan aku mencoba melepas sebuah pelukan, penuh hati-hati berharap kau tak terusik dari mimpi, membuka pintu sekedar menghirup udara tengah malam, aku tak ingin waktu begitu cepat tenggelam. Masih sunyi khas pegunungan, memang udara sedang dingin-dinginnya, namun entah apa yang mengusik rasaku untuk keluar menyampingkan pelukanmu. Tak ada dialog denganmu yang menyertai kesendirianku, hanya bicara dalam hati sendiri, Entah apa yang ku bicarakan, aku pun tak begitu menghiraukan. Aku hanya ingin hening, menunggu pagi, menyaksikan waktu yang berotasi.

Kira-Kira tak seberapa lama, terdengar pintu tengah terbuka. Ya… Itu kamu, mungkin kau sedang terbangun lalu tak menjumpaiku disampingmu, hingga kau mencari kemana aku pergi.

“Kemari”, kataku.

Kau masih berselimut, pertanda dingin masih tetap ingin merenggut, Kau langsung terbenam dalam pelukanku.

“Kenapa bangun begitu cepat, kenapa tak mengajakku ?”, tanyamu.

“Bagaimana kau tahu, aku ada di sini, sedang di luar, dingin tengah mengakar ?”, tanyaku.

“Aku terlalu mengenalmu, saat sepi kemana lagi kau pergi, jikalau tak menyendiri walau dingin tengah menyelimuti, kau tak bisa hilang dari kebiasaan merenung”. Jawabmu.

Maaf, bukan maksud mengajakmu untuk menikmati dingin yang teramat dingin, aku hanya ingin waktu tak cepat berlalu, membingkai setiap kenangan hingga kelak bisa ku kenang, melihat nyenyaknya kau terlelap, mencium kening diantara malam yang sedang berjalan, memeluk setiap inchi dari dingin yang menyerang, lalu kembali bangun dengan sebuah senyuman.

Aku hanya ingin semua tak berlalu begitu saja…

Seperti saat ini, saat narasi panjang diatas hanyalah menjadi kenangan, ingin menjadi sangat panjang namun kau entah kemana, sedetik ini masih tak berakhir rasa bahagia pernah bersamamu, perempuan yang begitu paham tentang dingin, hening dan dialog malam, dan semenit ini belum terpikir untuk mengganti nama yang terukir.

Han Y. Rahmat

23 Aug 2017

Advertisements

Author:

I'm Textrovert. Seseorang yang begitu mudah menuliskan namun begitu susah mengungkapkan. Pengagum senja di pangkuan buku dan pena. Tentu saja dengan secangkir teh di samping tangan kanannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s