Posted in Tulisan

Partikel

Cemaramalam – Partikel

Sebab aku mencintaimu secara diam, harusnya aku tak mengeluh saat luka tengah menikam. Rasa yang selalu ku pendam, perlahan menjadi mata pisau yang ku genggam, menyayat perih seperti halnya melihat rasamu yang telah beralih. Aku tak benar-benar kuasa menahan rasa ini, terlebih saat kau hadir diantara malam sunyi, telah lama sejak tangismu bulan lalu bersandar di atas pundakku, kau hampir tak terdengar kabar, tiba-tiba malam ini kau datang padaku, berfirasat kau akan datang dengan tangismu kembali, seperti malam-malam lalu saat kau, kekasihmu, dan ego kalian tengah beradu. Tapi kali ini kau datang dengan wajah berseri, senyuman indah tengah menghias diantara lesung pipi, jarang sekali setelah sekian lama rona itu bersembunyi. Tuhan kiranya boleh aku menikmati.
Kita tengah larut dalam obrolan yang teramat menyenangkan, hingga waktu semakin menuju keheningan dan obrolan kita beranjak sedikit membawa perasaan, seperti dramatisasi keadaan, perlahan senyummu semakin samar dan tatapanmu kian nanar kepadaku, secarik kertas kau keluarkan dari dalam tas, Kau berkata maaf untuk segala sifatmu yang mungkin merepotkanku, aku semakin tidak mengerti apa yang tengah terjadi, menerka apakah ini sebuah pamitan kau akan pergi. Kau semakin merunduk dalam kesunyian, bersamnya secarik kertas kau berikan perlahan, tampak tak asing bagiku, benar saja itu adalah undangan pernikahan, dan pada sampulnya, abjad namamu dapat dieja, bersanding dengan sebuah nama, yang kerap kau sebut tatkala kau terisak tengah bercerita tentangnya. Entah bagaimana rasaku saat itu, luka, patah hati, kecewa dan sedikit bahagia menjadi satu, semua terwujud dalam keheninganku. Menghela nafas panjang-panjang, berdiri dan berpaling dari kesunyian yang berselang. Membuka api dalam sekam, harapanku kini tengah benar-benar tenggelam, air mata tengah ku tahan berharap tak jatuh dalam kedinginan, Tuhan inikah akhir dari sebuah harapan.

Waktu semakin terbuang, hingga terasa hangat sebuah dekapan dari belakang, kau mendekapku dengan wajah yang kau taruh pada punggungku, kau tengah menangis, dalam isakmu kau bertanya padaku, apakah aku sanggup untuk hadir dalam pernikahanmu. Berat teramat berat sebuah kata tengah terbungkam oleh lara, belum satu kata keluar dari mulutku, kembali menyusul pertanyaanmu, bagaimana perasaanku, aku akan meninggalkanmu dalam kesendirian ?

Tuhan, bagaimana aku harus mengatakan ? Tetap saja aku berbicara berpura-pura menutupi rasa, haram bagiku untuk menolak segala keinginanmu sejak dulu, ya aku sanggup hadir dalam pernikahanmu, merayakan, mendo’akan dengan segenap perasaan agar kelak kau bahagia dalam mahligai keluarga. Soal rasa biarlah aku tetap di sini, kita adalah partikel kecil di dunia ini, yang tidak pernah benar-benar sendiri. Dekapanmu tetap ku rasa hingga waktu tengah memenggal rasa yang masih tertinggal.

Seminggu dari sekarang adalah penghabisan rasa sebelum melihatmu duduk dalam singgasana, berharap waktu sedikit melambat untuk sebuah hati yang kian berkarat, namun waktu tak juga berpihak kepadaku, dia tetap melaju seolah baginya ini terlalu mudah, datang dengan senyuman lalu pulang dengan tangisan. Kau tak pernah menjadi aku, waktu.

Hingga hari itu tiba, melangkah kaki pertama aku berdo’a, Tuhan kuatkan aku untuk mengucap do’a agar dia bahagia bersama orang selain aku. Harimu istimewa, dimana-mana penuh dengan bunga, hingga aku melihatmu duduk di atas singgasanamu, semua memandangmu penuh bahagia, kau tengah menjadi ratu dan raja. Rotasi waktu kembali memaksaku untuk tetap menikmati kesempurnaan separuh agamamu. Mungkin tak sengaja matamu akan menatap sebuah kursi tanpa ada yang menempati, maaf aku tak sehebat apa yang kau kira, dan harimu terlalu istimewa untuk dihias dengan air mata, aku berjalan menuju balik panggung menyeka air mata yang tak terbendung.

Tuhan… Kiranya tugasku telah selesai menjaganya, terimakasih telah memberi kesempatan untuk mencintai dia walaupun secara diam tak terungkapkan, terimakasih telah menghadirkan dia dalam cerita sakit hatinya ketika pertengkaran tengah terjadi diantara mereka, terimakasih telah memberi kesempatan untuk pernah memeluknya dalam isak tangisnya, memberi jeda sebelum hari ini, untuk mencintainya dalam sebuah curahan hati, harusnya aku bahagia melihatnya tengah menjalani hidup yang sempurna, namun hati tetaplah hati dan rasa tak bisa berdusta, aku terluka. bagaimanapun aku menyembunyikan luka, kiranya kau tahu, aku tak ingin dia melihatnya, biarkan dia tetap bahagia sesuai takdir hidupnya.

Tuhan… Kini ku kembalikan dia kepadamu, jagalah dia layaknya aku tak ingin luka menghampirinya, bahagiakan dia sepenuh hati aku menginginkannya, bila kiranya bahagia dia tengah hilang, ambilah sisa bahagiaku untuknya, untuk luka, itu bagianku sebab dia bukan aku, yang terlalu lama terluka mendekap rasa yang tak terungkap.

Maafkan aku yang tak usai menikmati pestamu, aku tak ingin merusak bahagiamu, dengan berpura-pura ikhlas melihatmu memotong kue pernikahanmu kemudian memberikan kepadanya dalam sebuah suapan. Sekali lagi aku tak benar-benar kuat menahan luka, aku tak sekuat pikirmu, tak seperti orang yang pernah memelukmu dalam sebuah malam untuk tangisan yang kau simpan. Namun perihnya lukaku, tak akan membuatku berhenti menjadikanmu oramg pertama dalam urusan rasa, aku masih ingin menjalani waktu dengan menikmati patah hatiku, aku tetap ingin melihat senyummu, hingga suatu saat kau akan disebut sebagai ibu oleh anakmu, dan aku akan bertemu dengannya dalam suatu waktu, aku bercerita panjang tentangmu, hingga kelak dia akan tahu betapa dia harus bangga dilahirkan dari seorang ibu yang tercipta dari separuh keindahan semesta.
Tuhan, bila benar manusia adalah partikel kecil dalam kehidupan ini, berikanlah aku sedikit bahagia untuk tidak merasa sendiri, setelah satu partikel yang berarti telah dimiliki.
Partikel

Han Y. rahmat

Advertisements

Author:

I'm Textrovert. Seseorang yang begitu mudah menuliskan namun begitu susah mengungkapkan. Pengagum senja di pangkuan buku dan pena. Tentu saja dengan secangkir teh di samping tangan kanannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s