Posted in Tulisan

PETRUK : Pak Tani

​Ini adalah cerita dari negeri amarta, luasnya daerah kekuasaan amarta terdiri dari desa-desa dan kota, bermacam-macam pula penduduknya, ada pengusaha, nelayan, peternak, petani, aparatur negara dan pekerjaan lainnya, tersebutlah petruk yang berprofesi sebagai petani di desa Karang Tumaritis sedang berbicara di depan rumahnya dengan kawan lamanya togog seorang eksekutif muda dari kota yang datang untuk sekedar berlibur dari kesibukan pekerjaannya, tapi entah kenapa Togog seperti orang bingung, jadi sepanjang obrolan mereka ya tentang curhatan si togog, petruk yang easy going di kasih curahan hati, ya tetep easy going, nah kira-kira beginilah suasanya :

Togog : “Truk… Aku ini sedang bingung truk”.

Petruk : “Ya kalau bingung, mbok pegangan pilar rumah itu, atau kata orang jawa, Klambimu waliken (Pakailah baju terbalik)”.

Togog : “Aku serius truk, jangan bercanda”.

Petruk : “Oke..Oke Bingung kenapa to gog ?”.

Togog : “Anu truk aku bingung entah kenapa hari demi hari tak rasa-rasain hidupku semakin gak tenang”.

Petruk : “Lhoooo… Kok bisa ?”.

Togog : “Ya aku bingung kenapa hidupku ini lo, berat kayaknya, satu masalah selesai datang masalah lain, terkadang masalah belum selesai, sudah datang lagi masalah lain, aduuuuh…”.

Petruk : “Kamu ini aneh-aneh aja to gog, wong ya kamu sudah jadi orang sukses, kerja di kantoran, ada AC ruangannya, gaji sudah tinggi belum tambahan lain-lain, kemana-mana bawa mobil, sampai kandang ayamku mbok tabrak ini lo”.

Togog : “Emang sih bener apa katamu, tapi kenapa ya kok masalah kelihatannya gak selesai-selesai, gaji yang segitu banyak juga habis untuk hidup anak istriku, belum lagi ada tagihan sekolahnya, tagihan listrik, air dan banyak lagi, aduuuh mumet aku…”.
Tiba-tiba Di sela obrolan mereka datanglah istri petruk yang menyuguhkan kopi untuk mereka, lumayan cantik sih istrinya, melongo si togog pas tahu kalau itu istri petruk.

Ambarwati : “Monggo… mas togog, maaf cuma ada kopi, gulanya saya pisah takut kalau nanti terlalu manis atau kurang manis, jadi maaf di tuang sendiri nggih”.

Togog : “Ehhh…ehhhhh….eeeee inggg….ggihh mbak, terimakasih ya”.

Tau togog gak berkedip pas memandang istrinya, walah petruk panas ati.
Petruk : “Weladalah, Ibune masuk…masuuuukkkk…. cepeeettt… jangan lama-lama di sini, nanti menimbulkan dosa pertama yang dipandang oleh pandangan pertama, sana ke dalam… heeeeee gog, ini istriku loo, mbok sudah memandangnya”.

Togog : “Oh iya…iya maaf, istrimu cantik soalnya truk, jarang-jarang di kota ada kayak gitu”.

Petruk : “Husssyaaaah… kembali ke inti masalah, trus dari ceritamu, intinya kamu mau gimana ?”.

Togog : “Anu truk, aku mau pijem duit kamu bisa gak ?”.

Petruk : “Jiangkrik…Hahahahaha ngomong ngalor ngidul, ternyata ujungnya pinjem duit, tapi apa aku ini gak salah denger to gog ? Kamu yang gajinya juta-jutaan kok malah utang sama aku yang cuma petani, lha aku uang darimana to gog…gog…”.

Togog : “Aku gak tau truk harus gimana, sudah pusing kepalaku, gak tau lagi kemana cari bantuan”.

Petruk : “Ya aku kalau pun bisa bantu ya cuma sedikit gog, wong kamu ya tau sendiri gimana pekerjaanku, gak mesti loo, panen juga lagi susah, kadang dimakan wereng, cuacanya yo wis gak karuan gini loo, jadi ya kadang gagal panen”.

Togog : “Tapi aku kok heran sama kamu truk, pekerjaan mu petani tapi kamu seolah gak ada beban dalam hidup, suantai gitu…”.

Petruk : “Walah alah… Yo enggak to gog… Sama aja tergantung dari sudut pandang mana kamu melihatnya”.

Togog : “Enggak Truk, beneran sampai orang-orang di sekitar sini itu juga bingung, hidupmu kelihatannya enak banget, seolah mau apa tinggal lakuin, gak ada beban sama sekali, mbok dibagi rahasianya”.

Petruk : “Kamu mau tahu rahasianya ?”.

Togog : “Heeemmmm… ya jelas to truk, jangan pelit-pelit loo”.

Petruk : “Yawes… tapi ini rahasia, sini-sini tak bisikin telingamu”.

Telinga Togog didekatkan ke mulut petruk, mereka ngobrol secara bisik-bisik, untung masih kedengeran, jadi ceritanya masih bisa dilanjut deh (Sampai narasi selanjutnya, Mode bisik-bisik : ON ya ).

Petruk : “Ssssstttt…. Istrimu berapa ?”.

Togog : “Heeee…? Istriii ? Ya cuma satu truk, emangnya kenapa ?”.

Petruk : “Nah iniii… Harusnya kamu punya istri lebih dari satu”.

Togog : “Oooooo… Jadi rahasianya harus punya istri dua ? ya…yaaaa ngerti aku”.

Petruk : “Sopo sing omong  ? (Siapa yang bilang ?)”.

Togog : “Lhaaa terusss ?”.

Petruk : “Biar tambah puyeng endassssmu (kepalamu) hahahahaha”.

(sampai di sini bisik-bisik berakhir ya), Petruk ketawa kepingkal-pingkal, ambarwati hanya mendesis dari dalam, dia tau betul gimana watak suaminya kalau diajak ngomong serius..

Togog : “Woooooo $%^^*&$%^% (translate : Asu, wedhus, cempe, bebek, kijang, lan kewan-kewan liane)… diajak bicara serius malah guyon, aku serius truk”.

Petruk : “Hahaha… Ya memang gak ada lo gog rahasianya, wong aku ini ya petruk, bukan dukun, tabib, suhu yang punya segudang rahasia”.

Togog : “Lha terus soal gimana kamu bisa santai banget gitu lo, jujur apa hidupmu udah gak ada beban ?”.

Petruk : “Lhaiki… Malah lucu lagi, wong hidup kok gak ada beban, aku ya sama, bayar listrik, beli dastrer, beli kutang, dan lainnya, ya samaaaa…”.

Togog : “Lha terus ?”.

Petruk : “Teras terus, kopimu sudah mbok kasih gula belum ? Ayo diminum dulu”.

Togog : “Sudah tak kasih gula, ya sudah tak minume dulu”.

Petruk : “Nah… Coba sekarang minum kopiku ini, tenang belum tak sruput”.
Togog mencoba kopi punya petruk yang ternyata belum dikasih gula, langsung dimuntahin, merasa dikerjain lagi, togog protes.
Togog : “Truk….. Kamu ngerjain aku lagi to ? Kopimu gak enak, pahit, belum kamu kasih gula”.

Petruk : “Lhooo… piye to ? Katanya kamu mau tanya rahasia, ya ini rahasianya”.

Togog : “Sebentar…sebentar gimana maksudnya ?”.

Petruk : “Wes… Jadi gini gog… ini agak panjang, dengerin yo… Sebenere juga gak ada rahasia apa-apa, ya sama kayak kopi yang kamu minum, bagimu kopiku rasanya pahit, karena kamu sudah terbiasa menambahkan gula, sedangkan aku masih suka kopi murni, diluar aromanya yang masih orisinil. Dengan kata lain, kalau kamu menambahkan gula, maka standart rasanya jadi berubah, kamu ingin kopi yang manis, untuk kopi yang manis kamu butuh gula to ? Ya kalau ada gula, kalau gak ada, mau cari dimana, ngutang ? Dan pas kamu nambahin gula, cuma ada 2 kemungkinan, kopimu kurang manis dan kopi terlalu manis sehingga hilang rasa dari awal kopi tadi, dan aku percaya susah sekali mencari takaran sing pas antara kopi dan gula. Jadi intine, aku masih bisa menikmati kopi tanpa gula tapi standart rasa kopimu sudah naik menjadi manis karena gula”.

Togog : “Wah…daleeeem tenan truk ilmu mu”.

Petruk : “Halaaah… Aku ngaawur e kuwi, cuma tak hubung-hubungin tok.. hahaha”.

Togog : “Enggak…Enggak… teruskan truk, kalau diterapkan dilingkup kehidupan”.

Petruk : “Sik…sik… tak minume kopi, ngelak (haus) aku…”

Petruk : “Dadi kalau diterapin dalam hidup, begini kurang lebihnya, tapi ini soal pandangan aja, mungkin kamu punya gaji puluhan juta, sedang aku mungkin cuma 1 juta, kadang-kadang juga di bawahnya, tapi sebenarnya sama kayak kopi tadi, standart kita masih sama sebenarnya, makan ya sama nasi, minum ya sama air, lauk ya sudah begitu rasanya, tidak ada yang membedakan, hanya saja terkadang kamu masih mengikuti gengsi yang mungkin makan di restoran mewah untuk menunjukkan kamu mampu diantara teman-temanmu,coba diingat-ingat seberapapun gaji yang kamu punya, kalau pengeluaranmu itu lebih banyak 100 rupiah saja, pasti ya kamu kurang senilai 100 rupiah tadi to ? Inilah sebabnya kamu merasa hidupmu gak tenang, soalnya kamu nyari diluar jadwal kerjamu, padahal kamu tahu sendiri, jadwalmu itu padet…detttt… Gajimu sebagai pengusaha mungkin banyak diatas para petani, tapi terkadang kamu gak lebih baik dari mereka soal mensyukuri dan menikmati hidup. Dan terakhir, waktu adalah sesuatu yang tidak bisa dibeli. Sebab dengan waktu, kita bisa tertawa, kumpul sama keluarga, ikut kondangan, ngencuk, dan lain-lain”.
Togog heran, petruk yang cuma lulusan SD dulu, ternyata bisa berpikiran seperti itu, darimana yo petruk kok bisa ngomong kayak gitu.
Petruk : “YO EMBUUUUUHHHHHH, WONG AKU PETANI, DADI YO SAK KAREPKU NEK KU NJAWAB”.
PETRUK : Pak Tani 

Han Y. Rahmat

Advertisements

Author:

I'm Textrovert. Seseorang yang begitu mudah menuliskan namun begitu susah mengungkapkan. Pengagum senja di pangkuan buku dan pena. Tentu saja dengan secangkir teh di samping tangan kanannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s