Posted in Tulisan

R U A N G

Jarak adalah ruang sela antara dua objek atau lebih (KBBI). Sedangkan ruang adalah tempat di mana segala unsur menempatkan posisi mereka dalam porsinya. Ruang adalah sesuatu yang tak kunjung habis bila harus kita jadikan renungan diplomatis, dimana ruang adalah unsur semua kehidupan tercangkup di dalamnya, dalam fisika para ilmuwan sedang mencari Tuhan dalam sebuah ruang, biarkan mereka bekerja sesuai tugasnya dan untuknya kita tak akan membahas tentang ruang. Mari kita berbicara soal yang lebih sederhana : JARAK

Biarkan saya mengawali dengan sebuah kalimat, Jarak adalah angka satuan rindu yang terbentang secara semu.

Banyak diantara kita menghakimi buruk tentang sebuah jarak, seolah jarak adalah pemisah pada sesuatu yang harusnya berujung indah. Perpisahan adalah erat kaitannya dengan jarak, bagaimana dia dihakimi menjadi sesuatu yang selalu dihindari dan patut dicaci maki, padahal dalam sudut pandang lainnya, Jarak adalah cara Tuhan menumbuhkan Cinta.

Sedikit saja menyinggung soal jarak dan ruang menurut saya secara sederhana, Bayangkan dalam sebuah ruang kosong, ada sebuah benda A terletak berjarak dengan benda B, antara A dan B ada jarak yang sangat luas, tidak hanya berupa garis lurus yang terbentang sebagaimana mainstream jarak  didefinisikan, ingat A dan B berjarak pada sebuah ruang, bolehkah saya mengatakan bahwa selain posisi A dan B dalam ruang yang sangat luas adalah tempat yang tercipta dan bebas diisi oleh objek lain selain mereka ? Mungkin diantara mereka ada oksigen, ada karbondioksida, ada molekul atau bahkan partikel lain yang wujudnya mungkin A dan B tidak bisa melihatnya. Bukankah hal ini sama dengan  sebuah jarak yang tercipta dalam hidup kita, Dunia adalah ruang kotak, dan Kita adalah objek A atau B atau bahkan abjad lainnya, sedang diantara kita, bukankah bisa terselip rindu seperti halnya oksigen yang kita hirup, dapat kita rasa namun tak pernah terlihat mata. Begitulah jarak !

Jarak menanam rindu sebelum datang dan pergi.


Hari ini adalah penghujung ramadhan, 1 bulan / 2 bulan yang lalu dari sekarang adalah jarak yang tercipta antara kita dan bulan ramadhan, dalam rentang waktu itu, banyak bertebaran quote penyambutan ramadhan, quote bernada indah penggambaran datangnya ramadhan, sangat indah untuk dibayangkan kedatangannya, bukan ? Betapa rindunya kita akan bulan suci, seolah kita sudah siap dengan segenap hati, menyambut dengan setulus nurani, tapi apa yang terjadi ketika ramadhan sudah kita jalani ? Tak jarang kita lupa akan rindunya bulan suci, menjadi kebiasaan yang dilakukan hingga seolah tak ada lagi keistimewaan, dan ketika ramadhan akan pergi, kenapa seolah kita diingatkan suasana kembali, berharap kita akan bertemu agi dengan bulan penuh berkah ini ? Berulang menjadi proses menantikan ramadhan tahun depan seperti tahun silam, inilah jarak cinta yang tumbuh antara ramadhan dan Kita.

Jarak adalah ruang yang terpenuhi rindu.


Bagaimana jarak mencipta rindu antara dua kekasih yang terpisah atas takdir yang terpilih ? Untuk ini, erat kaitannya dengan para pejuang jarak jauh, atau orang menyebutnya LDR. Saya pernah menulis tentang kekaguman saya terhadap LDR, silakan baca di sini.

Saya selalu berkata mereka adalah orang-orang yang kuat hatinya, dan teguh pendirian dalam penantian. Menjaga janji untuk hati tak melukai. Mungkin kamu berkata, “Kenapa tak selingkuh saja ? Toh tidak akan tau pasangan kita.”.

Itulah sebabnya kamu yang berkata seperti itu tidak ditakdirkan sebagai LDR, karena Tuhan tidak mau ada satu hati yang penuh ketulusan dipatahkan. Karena Menjaga keutuhan hati terlalu berat untukmu sebagai amanat, kau tak akan kuat.

Seolah mereka terlihat sebagai orang yang penuh dengan penderitaan dalam penantian, bagaimana setiap harinya berupaya untuk berkomunikasi sebagai wakil bertatap muka, segala cara dicari untuk bisa melihat senyum kekasih hati. Tapi sadarkah, dalam diri mereka sebenarnya tertanam benih cinta sejati. Pada penantiannya ada rindu yang terselip di dalamnya, mereka mengenal rindu lebih daripada kita, menjaga keutuhan hati untuk suatu hari yang dinanti adalah bukti dari cinta sejati. Percayalah cinta tercipta sebab ada jarak yang terbentang diantara keduanya, karena jarak inilah pada akhirnya mereka menghargai waktu berdua. Bahkan ada yang berkata bukankah sebuah tulisan mampu kita baca sebab ada jarak (Spasi) diantara keduanya. Masib percaya mereka (LDR) adalah orang yang menderita ? Mereka adalah orang-orang yang selalu dipenuhi cinta dalam setiap penantian kekasihnya. Bersemangatlah para LDR, ingat jarak yang terselip cinta di dalamnya, akan selalu tumbuh dan tumbuh hingga kelak menguatkan kalian berdua sebagaimana kalian telah berusaha menunjukkannya ketika jarak terbentang diantara kalian berdua. Dan ingatlah, Cinta pun tak harus bertemu, kita beribadah adalah wujud cinta kita pada Tuhan semesta raya, namun apakah kita melihat wujudnya ? Bukankah dalam setiap ibadah, selalu didasari cinta yang tertanam indah ? Inilah konsep Jarak yang terselip cinta di dalamnya.

Jarak adalah sebuah pertemuan, bukan perpisahan.

Pada sebuah Jarak kita dipertemukan dengan kata Rindu, kata yang menjadi sahabat dari Cinta. Untuk mendapat cinta haruslah Kamu berjumpa dengan rindu, sebagaimana adalah para pemudik hari raya yang sedang merindu untuk sebuah cinta kepada keluarga. Rindu menjadi jembatan antara ujung cinta mereka dengan tujuan keluarga, pada jarak yang mereka lalui ada rindu menyertai. 

Mari kita bicara tentang mereka yang berada di tanah rantau, jarak senantiasa menyelimuti mereka, bahkan dalam hari raya agama, terkadang mereka tak bisa pulang, sekedar melepas rindu untuk setiap jarak yang ditunggu, rindu rumah adalah alasan air mata mereka tumpah, perempuan di malam takbir menjadi malam sendu, saat pekerjaan masih datang membelenggu, mereka ingin berjumpa dengan sesosok ibu, memeluk meremuk rindu, mencurahkan isi kalbu, hingga sebuah tangisan terkadang menyertai penyampaian. Tapi mereka tak bisa pulang, jarak seolah menjadi sebuah penghalang, dan di malam hari raya, diantara keduanya ibu dan anak hanya berbagi suara lewat media, berlatar suara takbir, mengiringi suara tangis keduanya, Ibu Aku rindu, kata yang begitu sering terulang dalam setiap telinga yang terngiang, seorang ibu haruslah tampak bijaksana, dia harus berkata “Tidak apa-apa nak, Tahun depan masib ada waktu untuk kita bertemu, berbaiklah kau di sana anakku,ibu menyayangimu”. Bukan itu saja, ketika hari raya para tetangga sekitarnya berdapatan sedang bersama dalam hangatnya sebuah keluarga, teryawa bahagia penuh dengan canda, srdang dia hanya bisa mengelus dada, soalah iri merasuki nurani, ingin sekali dia menangis, memohon pada Tuhan agar jarak didekatkan. Seolah dramatisasi kehidupan seperti mereka adalah penuh dengan derita, menghitung ratusan rindu yang ditunggu namun tak jua bertemu ? Tapi sadarkah, sisi lain mereka dipertemukan dengan kerinduan, cinta paling dasar adalah saat air mata sudah berbicara, sudah tak ada lagi kata yang mampu diucapkan hingga isak menjadi sebuah jawaban. Setiap waktu yang berlalu tak pernah lepas dari kata rindu, mereka lebih bisa menghargai waktu, sedetik waktu yang melintas, akan menjadi ratusan abad tanpa bekas. Begitulah mereka dalam setiap penantiannya, mereka adalag orang-orang tangguh, menaklukan rindu yang bergemuruh.
Jarak bukanlah semata tentang satuan angka yang terbentang diatara keduanya, tapi Jarak adalah kerinduan dalam sebuah ruang. Ruang rindu yang kasat mata namun bisa dirasa, sejauh-jauhnya jarak bukanlah satuan angka antar keduanya, tapi jauhnya jauh adalah kabar yang tak pernah bisa terberi diantara dua hati yang saling mencintai. Menunggu terkadang bagi seseorang adalah tentang keindahan, walau tak jelas ujungnya, namun penuh dengan cinta, indah tapi diam dalam ungkapan, tak ada yang bisa dijelaskan tentang keindahan sebuah penantian, tak ada yang meragukan keindahan dari lukisan seorang perempuan yang menunggu berpangku tangan diantara daun jendela. Tapi justru diantara kita, terkadang tertipu oleh hal yang hanya nampak di depan kelopak, yang kita tau jarak hanyalah jembatan pemisah. Kita tak pernah tau jarak yang paling jauh adalah saat mereka sedang asyik berdua namun tak satupun obrolan menemani keduanya. Memang terlihat keduanya bersama tak ada jarak diantara mereka, tapi justru merekalah jarak yang paling jauh, bersama tapi hening tanpa suara, menanti untuk kabar yang tak menghampiri, mereka memilih untuk mencari bahagia sendiri, bukankah ini ego yang terlalu tinggi ? Jarak tergantung sudut pandangnya, dari mereka yang menikmati rindu, jarak adalah rajutan rindu yang tersulam sembari menunggu, dan bagi kamu yang menampik rindu, jarak hanyalah bentangan angka yang terhitung diantara kedua objek yang berbeda.

Jadi bagaimana jarak menurut Kamu ?

Ruang

Han Y. Rahmat

Advertisements

Author:

I'm Textrovert. Seseorang yang begitu mudah menuliskan namun begitu susah mengungkapkan. Pengagum senja di pangkuan buku dan pena. Tentu saja dengan secangkir teh di samping tangan kanannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s