Posted in Tulisan

Please Don’t Go !!!

Matahari telah beranjak pada penghujung petang, secangkir kopi tengah ku nikmati bersama senja sebentar akan menghilang, pepohonan kelapa telah menjadi hitam di peraduan, bersamanya burung-burung kecil berlarian menuju jalan pulang untuk memeluk sebuah kehilangan, dan hitamnya senja masih saja sama, menyajikan kisah sendu di penghujung waktu.Sedang Aku hanya duduk pada sebidang bangku, menyaksikan ujung waktu yang sedang berlalu. Menerka esok akan terjadi apa, terbenam pada masa yang telah silam, keduanya datang bersama. Tak perlu bimbang, karena hati tau bagaimana membuat seimbang.

Saat sendu-sendunya tiba-tiba bayangmu hadir di depan mata, entah kau tampak begitu nyata, benarkah ini hanya khayalan atau hadirmu secara kenyataan. Kau terlihat semakin mendekat, ternyata ini kau benar adanya, secara nyata kau datang penuh dengan terka, ada apa ?

Belum kupersilahkan duduk, Kenapa kau kian merunduk, satupun kata belum terbata kau sudah tunjukkan genangan air mata, sandiwara apa yang sedang kau perankan kepada hati yang pernah kau patahkan ? Baiklah, mungkin kau singgah, sekedar menyapa lalu berencana hilang sebagaimana mestinya, ada baiknya aku berbasa basi mempersilahkan kau duduk di atas kursi, duduklah.

Penuh isak yang menjadi sesak, kau mencoba menyapaku, lewat sebuah ungkapan, “Hei, apa kabarmu ?”. Demi apapun itu, aku ingin berkata padamu, aku tak pernah sebaik ini, melihatmu datang tersakiti, melihatmu terluka, ingatlah aku pernah berkata, aku akan menjadi orang pertama yang tertawa saat kau sedang terluka. Dan hari ini Tuhan telah mengabulkan. Tapi aku tak pernah sejahat itu, cukuplah dalam hati tak perlu lisan mengucap menyakiti.

Kabarku baik saja, tak terlalu bahagia tak juga sedang terluka, paling tidak aku masih bisa menikmati jantung yang berdetak. Sudah itu saja. 

Setelah berbasa basi sudah waktunya kita menuju inti dari pertemuan yang tak direncanakan, kau sedang terluka, seseorang yang begitu kau percaya pergi meninggalkanmu tanpa kata.Entahlah aku tak bergitu tertarik, tak berusaha menjadi pendengar yang baik, sebab aku tak ingin damaiku kembali terusik. Kau datang dengan terluka lalu berkata kita harusnya kembali merajut cinta. Sadarlah, dimana perempuan lima tahun yang lalu, saat dia mengucap sumpah untuk selalu membenciku, dimana perempuan itu yang dulu membiarkanku terluka bersimbah duka ? 

Pergilah, itu ucapan pertama !!!

Datanglah pada dia yang dulu begitu kau agungkan, dia yang selalu kau puji atas rasaku yang kau curangi, dia yang katamu selalu mengajakmu bahagia dalam gemerlap dunia, makan di restoran, tinggal dalam istana megah, bahkan kemanapun kamu melangkah, dia siap dengan kendaraan mewah, dimanakah semua itu ? dulu itu kau teriakkan padaku, aku bertekuk lutut berharap bahagiaku tak kau renggut, namun justru niat suci kau jadikan alas kaki, tulusnya rasa kau anggap Biasa, setiap orang mampu memberinya. lalu kenapa kau datang kembali ke sini ? Bukankah dulu kau yang setiap hujan selalu dihadiahi pakaian ? Sedang aku hanya bisa memberimu pelukan, aku memang tak sempurna soal predikat harta, tapi sadarlah harta paling utama di atas segalanya adalah “apa adanya”. Bukan aku tak ingin kembali, tapi ini bukan pula waktu yang tepat, untuk membuat hati kembali tersayat. 

Pergilah, itu ucapan kedua !!!

Pergilah dengan dia yang kau dulu kau ajak sebagai teman berbagi cerita, aku sudah kalah, kau usir untuk sebuah pengaharapan terakhir. Aku meminta, aku mengemis penuh isak tangis, meminta dengan segenap hati untuk kerelaanmu tetap tinggal di sini, namun sebuah usaha berjuang tetap kau tendang, tetap kau menyuruhku pergi untuk tidak hadir dalam hidupmu kembali. Aku pun pergi.

Jika kau ingin tau bagaimana menjadi aku waktu itu, datanglah pada secangkir kopi di sore hari, dia telah menjadi prasasti, menjadi saksi, untuk sebuah rasa yang kau khianati.

Hari sudah malam, sudah saatnya kau pulang, tenanglah aku tak pernah buru-buru menggantimu, aku hanya sedang menunggu tentang seseorang yang sedang mencari aku yang sedang tersesat hati.

Pulanglah, itu ucapan terakhir !!!

Kau lupa selamanya, bahwa manusia hanya pandai berencana namun tak pernah pandai berkuasa. Dan sadarlah karma sedang mengetuk pintu rumahmu, tugasku hanya duduk menikmati hasil juang memperbaiki hati. Dan satu, 

Terimakasih sudah datang, Maaf saatnya Kamu pulang.


Please, Don’t Go !

Han Y. Rahmat

Advertisements

Author:

I'm Textrovert. Seseorang yang begitu mudah menuliskan namun begitu susah mengungkapkan. Pengagum senja di pangkuan buku dan pena. Tentu saja dengan secangkir teh di samping tangan kanannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s