Posted in Tulisan

Kapan Kamu Menikah ? part II

Lebaran segera menjelang ! Suasana hari kemenangan akan selalu diselimuti oleh rasa rindu yang terbendung setelah nafsu kian lama terkurung. Mereka di luar kota berusaha pulang kepada keluarga, Mereka yang pergi akan datang kembali, mereka yang sedang diperantauan akan pulang ke tanah halaman, semua dirangkul dalam haru dan rindu menjadi satu. Berkumpul dalam sebuah meja yang penuh dengan hidangan khas hari kemenangan, ketupat opor ayam dan aneka camilan, segala telah tertata sedemikian hingga kita berharap pada satu, KEBAHAGIAAN. Keluarga, kerabat dan saudara berdatangan, berkumpul dalam satu kebersamaan, tertawa riang, berceritan dan bercanda bersama gema takbir yang berkumandang, gelak tawa senantiasa menghiasi setiap manusia di sana, susah senang, tangis dan tawa mereka tertumpah bersama, yup that’s your goal, right ?, Tapi di tengah hangatnya suasana, selalu ada diantara kita yang merusak walaupun hanya menodai dengan canda. Salah satunya adalah mereka yang bangga bertanya “Kapan Kamu Menikah ?”, Dengan diiringi tertawa seolah menjadi sebuah nada yang merendahkan, berprasangka bahwa mereka adalah orang yang patut dipercandakan dengan status kesendirian.

Are you thinking that’s still funny ? NO !

Biarkan Saya mewakili orang-orang yang selalu mendapat lemparan pertanyaan, duduklah sebentar yuk ngobrol sama saya, saya akan mencoba menjawab mewakili mereka. Silahkan bertanya !!!

Kapan menikah ? Kapan menikah ? Kapan menikah ? Kapan menikah ?

Kapan menikah ? Kapan menikah ? Kapan menikah ? Kapan menikah ?

Simple… Besok habis maghrib !!! Sudah ? Ada pertanyaan lain ? Kalau ada silahkan tanyakan.

………………….. Menunggu pertanyaan…

Oke, saya rasa sudah tidak ada yang ditanyakan, sekarang gantian saya yang bertanya, ibaratkan dalam sebuah moment kebersamaan, ketika anda sudah bertanya “Kapan Menikah ?”, Dan pertanyaan itu sudah dijawab, sekarang anda dihadapkan pada pertanyaan “Hei, Kamu, kapan kamu bahagia ?”, Sekarang silahkan dijawab !

Kebanyakan dari mereka akan menjawab YA SAYA SUDAH BAHAGIA ! Oke katakanlah menikah sebagai salah satu hal yang kamu banggakan dan kamu acungkan sebagai prioritas pertama kebahagiaan, lebih dibandingkan mereka yang masih terlelap dalam kesendirian. Sekarang simpan dulu asumsi anda bahwa menikah adalah sebuah kebahagian yang patut disandingkan dengan candaan kapan menikah ? Dan saya tidak mengatakan pernikahan anda tidak bahagia, that’s your dream and your life ! Saya ulangi simpan dulu asumsi menikah adalah kebahagiaan yang patut diletakkan diatas pertanyaan kapan kamu menikah.

Then, listen to me now… 

Mungkin anda sudah menjawab pertanyaan bahagia dengan mengatakan sudah, salah satu contoh bahagia menurut anda adalah pernikahan yang selalu kamu banggakan, dan biarkan saya bertanya sekali lagi dengan kata “Lalu kenapa (Then, So What ?)”.

Kamu sudah menikah ? Lalu kenapa ?

Mungkin anda akan menjawab ya menikah adalah kebahagiaan bisa hidup berdua bersama orang tercinta, bangun tidur melihat senyumnya, memeluknya dengan ucapan “Morning, darling”, indah bukan ?

Iya, Lalu kenapa kalau anda sudah hidup bersama ?

Mungkin anda akan menjawab dengan saya akan menjadi seorang ibu/bapak dalam sebuah keluarga, peran yang sangat dinantikan ketika masa pacaran, sebuah tempat pengaduan anak-anakmu ketika mereka sedang dalam masalah, berharap kamu melindungi mereka, indah bukan ?

Iya, lalu kenapa kalau sudah menjadi ibu/bapak ?

Mungkin anda akan mencari jawaban lagi, ya bangga dong bisa membesarkan anak dalam maghligai pernikahan, membentuk keluarga sendiri sesuai harapan dan impian, menjadi bijak dan beranjak tua, indah dan bahagia bukan ?

Iya, lalu kenapa kalau sudah membangun keluarga ?

Anda mungkin akan menjawab dengan mencari alasan lagi, ya karena merangkai hidup dan menjadi tua bersama menikmati masa-masa tua adalah kebahagian.

Iya, lalu kenapa kalau sudah menikmati masa tua ? 

Lalu kenapa kalau sudah bla…bla…bla,,,

Bingung ? Gak ada habisnya pertanyaan itu ? Seolah mendesak anda untuk mengakui bahwa anda tidak bahagia ? Menjengkelkan bukan ? Same like that…

Hidup anda pun dengan jawaban mainstream yang saya sebutkan tadi juga standart-standart aja kan ? Memang sudah seharusnya menikah ya seperti itu, bahkan hampir semua orang mengalami hal yang sama, coba anda pikirkan bila suatu hal sudah umum dilakukan, then I ask to you, Where’s the special ones ? Dimana spesialnya ? Hampir semua orang mengalami apa yang anda rasakan, jadi masih membanggakan menjadi orang yang sudah menikah dengan melempar candaan kapan menikah ?

Kemarin saya ngobrol dengan petani/kuli yang menurut sebagian orang penghasilannya pas-pas an, bagaimana cara menikmati hidup dengan makan apa adanya ? Di luar dugaan, jawaban mereka sangat mengherankan, mereka menjawab, 

“Kalau adanya tempe, bagaimanapun rasanya kalau kita fokus ke tempe, maka rasanya juga nikmat, yang membuat tempe tidak enak adalah, kita tidak memakan tempe, lalu kita membayangkan ayam goreng, ayam goreng tidak dapat, tempe pun rasanya pas-pas an, jadi itu penyebab kita tidak menikmati hidup”.

Dari situ saya menarik kesimpulan, menikah bukanlah satu-satunya alasan kebahagiaan yang patut diunggulkan dari mereka yang masih sendirian, belum tentu anda lebih bahagia dari mereka. Masih tidak percaya ?

Well, keep reading 🙂

Selalu ada 3 kemungkinan kita hidup, masa kecil, masa dewasa, masa tua, ini adalah kemungkinan ketiganya.

  1. Masa kecil (Kita banyak waktu, kita minim uang, kita banyak bahagia)
  2. Masa Dewasa (Kita berkurang waktu, kita punya uang, kita kurang bahagia).
  3. Masa Tua (Kita banyak waktu, kita banyak uang, kita susah bahagia).

Benar ? Dan anda sudah menikah, berada pada masa dewasa, jadi berhenti menyanggah anda sudah bahagia !

Dan mereka yang belum menikah, sedikitpun tidak pernah ingin bertanya apakah anda sudah bahagia ? Dan tidak pernah mengusik rasa bahagia anda dengan pertanyaan-pertanyaan yang justru menyudutkan anda.

Lalu, Bagaimana dengan anda selanjutnya ? Masih bertanya kapan menikah ?

Menikah atau belum adalah hal yang tak perlu dipertanyakan, cukup dalam diri sepenuh hati menjalani apa yang telah dipilih, tidak saling melempar keraguan dalam candaan pertanyaan. Banyak diantara mereka yang belum menikah, justru lebih menikmati hidup, banyak pula mereka yang sudah menikah lebih bisa menikmati hidup, itu tergantung seperti halnya makanan tempe tadi. Bagaimanapun dalam meraih bahagia perlu diingat, Bahagia tidak pernah menemukan alasan untuk dijelaskan, bahkan tidak ada batasan atau puncak dimana bahagia itu dideskripsikan, Bahagia adalah tentang perasaan yang paling tersembunyi dalam nurani, tak nampak pada rona, tapi merekalah yang sanggup mendeskripsikan kebahagiaan dalam dirinya masing-masing, bukan alasan atau sanggahan untuk sekedar dianggap bahagia.

So, finally… Berhentilah untuk bertanya kapan menikah, cobalah menyeduh secangkir kopi, nikmati rasa pahitnya yang beradu dengan gula, selalu ada rasa pahit yang berdiri diatas komitmen kita bebas menikmati kopi, bagaimanapun caranya, lalu bergeserlah ke depan cermin, taruh telunjukmu di depan cermin, tunjuk bayangan yang muncul di depanmu dan teriakkan dengan lantang, 

AM I HAPPY RIGHT NOW ?


Kapan Kamu Menikah part II.

Han Y. Rahmat

Advertisements

Author:

I'm Textrovert. Seseorang yang begitu mudah menuliskan namun begitu susah mengungkapkan. Pengagum senja di pangkuan buku dan pena. Tentu saja dengan secangkir teh di samping tangan kanannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s