Posted in Novel

Kopi Kaiya

K-O-P-I sebuah kata yang mengawaliku untuk menuliskan cerita ini kembali, Kopi mungkin tengah akrab di lidah dan hidung Kita semua, bagaimana secangkir kehangatannya mampu menghipnotis bagi para penikmatnya, diantara mereka ada penggila rasa pahitnya, penggila aromanya, ada pula diantara mereka penggila keduanya, aku rasa sah-sah saja mereka mengagumi apa yang mereka suka sehingga mereka menyebut dirinya “penikmat kopi”, lalu bagaimana dengan aku ?

Apakah aku penikmat Kopi ? apakah aku adalah orang yang suka menghabiskan waktu senggang untuk menikmati kopi di sebuah cafe ? ataukah aku penikmat beberapa bungkus glutamate yang beradu dengan aromanya ? Bila kau bertanya demikian, maka jawabnya adalah bukan semua. Menyebut diriku penikmat kopi, ku rasa kurang tepat untuk menggambarkan sisi pribadiku, saya hanyalah orang yang menyukai Kopi, bukan penikmat. Lantas bila aku tak paham tentang kopi bagaimana aku akan menulis cerita tentang kopi ? 

So, There is the another story I will Tell to You…

Kopi bagiku adalah sebuah kesakralan, ya… Sebuah kesakralan bagi para pemegangnya, bukan sebuah sakral ritual seperti halnya adat istiadat dan keagamaan, tapi sakral dalam menemukan diri kita dari setiap aroma dan rasa yang diciptakannya. Bagaimana kopi mampu mencipta suasana sendiri, bayangkan menikmati secangkir kopi waktu hujan di dekat jendela dengan syal yang melingkar di leher kita, atau mereka yang punya perapian, menikmati secangkir kopi di depan perapian dengan latar musik klasik sebagai penenangnya, indah bukan ? dan sekali lagi ini tentang..

K-O-P-I
Kopi tak asal kita meminumnya, asal nongkrong bersama teman, asal ada tempat yang ada wifi dan menghabiskan waktu berjam-jam di depan gadget ataupun layar laptop pemiliknya, asal ditemani orang tercinta, lantas kita seolah sudah  pantas untuk dikatakan “NGOPI” dan menyandang gelar tukang ngopi atau penikmat kopi. Sayang sekali tidak berlaku dalam hidupku, Kopi adalah penemuan jati diri, bukan sekedar minuman hitam yang disajikan dalam setiap cangkir empunya, lalu bisa dilibas begitu saja, berlalu tanpa bekas hanya menyisakan ampas. Setiap rasa dan aroma mengajarkan filosofi tersendiri, setiap peminumnya akan jatuh dalam lautan jati diri, mengabaikan soal dimensi dan waktu, menemukan apa yang telah hilang, mencari apa yang meninggalkan jejak, dan…..

“Permisi Mas, boleh gabung, meja semua penuh soalnya”.

Maaf narasi cerita sedikit terpotong dengan suara seorang perempuan yang meminta bergabung di kursi cafe tempat dimana aku duduk sekarang, tapi abaikanlah dulu, kita lanjutkan narasinya, mungkin ribet kata kalian, menikmati kopi kok pakai filosofi segala, kopi tetaplah kopi, dibuat untuk diminum, dihabiskan, dibayar dan beraktivitas kembali. Yup.. semua orang bebas dengan persepsi dan filosofinya, termasuk Kamu, dan ini adalah cerita tentang mereka yang percaya akan semua filosofi dalam secangkir Ko……

“Mas.. Boleh gak ? daritadi diem aja, kalau gak boleh biar aku cari meja lain”.

“Eeee..eee… Maaf.. ya… ya silakan mbak”, Jawabku.

“Terimakasih Mas”.

“Sama-Sama Mbak”.

Dialah perempuan berambut panjang yang menyela pemikiranku, bersama dengan secangkir kopi di tangan kirinya, dia menempatkan duduknya, berawal dari sinilah ku tunjukkan bagaiman secangkir kopi menyimpan sebuah filosofi. Terlihat Dia masih saja memegang cangkir kopinya, tatapannya fokus pada layar handphone miliknya, namun perlahan dia mendekatkan kedua bibirnya pada cangkir kopi dan Wuuuussssh…, dia meniup kopinya pertanda kopi itu masih panas, berharap menjadi dingin dengan hembusan nafas dari mulutnya. Mungkin semua terlihat biasa seperti halnya lumrah ketika kopi ditiup sebelum diminum, tapi bagiku dia bukan penikmat kopi. Dia hanya ingin terbawa suasana dari cafe tempat dimana aku berada sekarang, berlatar lampu-lampu yang bernuansa kuning, serta puluhan poster motivasi yang tertempel di dindingnya, mungkin menjadi alasan utama dia berada di sini. Nanti-lah Ku beritahu bagaimana aku bisa mengatakan dia bukan penikmat ko….

“Suka nongkrong di sini juga mas ?”, Kedua kalinya dia memotong ceritaku.

“Hmmm… Ya gak terlalu juga sih, lagi lewat kebetulan sepi dan aku mampir, kalau kamu ?”, Jawabku.

“Kalau aku suka ke sini, tapi kadang juga males kalau lagi rame begini, aku suka dengan suasana cafe ini, nuansanya seperti perpaduan eropa dan seni klasik, keren dan patut dipuji  designernya..”.

“Kaiya… biasa dipanggil Kay…”, tambahnya, sambil mengulurkan tangan pertanda dia mengajak berkenalan.

“Oooo… Saya Sabrang, senang bertemu denganmu, Kay”, Jawabku gaguk.

“Sama-Sama, dari semua orang yang berada di sini, Cuma kamu loo yang sendirian, hihi… Kayak orang kesepian..”, Candanya.

“Yah.. tergantung sih, bagaimana melihat arti kesepian itu, kalau begitu sama dong, dengan perempuan yang bertanya untuk bergabung duduk di sini lima menit yang lalu, dia pun juga sendiri”.

“Hahaha… Senjata makan tuan ini, suka Ngopi juga ya ?”, tanya Kay.

“Oh.. enggak… ini aku beli es teh”, Jawabku sambil menunjukkan gelas.

Sedikit saja aku sudah paham tentang perempuan ini, Dia seorang perempuan yang sosialis, semoga sosialnya pada seseorang yang baru dikenalnya tidak kalah dengan sosial medianya, belumlah ku temukan dia menyela obrolan dengan handphone di tangannya. Tapi tetap persepsiku mengatakan dia bukan penikmat Kopi.

“Kenapa gak suka kopi ?”, Kay bertanya lagi.

“Bukan gak suka, tapi suasana yang gak tepat untuk minum kopi”.

“Ciielah… Minum kopi pakai atauran sekali pun ?”.

“Bukannya aturan, sekarang dibalik nih pertanyaanya ? Kamu suka kopi ?”, tanyaku balik.

“Suka sekali, kopi sudah menjadi hal wajib yang harus diminum setiap hari, kalau gak seperti orang kecanduan, haha..”, jawabnya sambil ketawa.

“Yakin ?”.

“Yakinlah, kenapa kok gak percaya gitu ?”.

“Haha… sejak kamu duduk sampai sekarang, akku belum menemukan Kamu seorang penikmat kopi”, Jawabku.

“Lho… Kok bisa ?”.

“Satu saja bukti kalau kamu bukan penikmat kopi, Kamu meniup Kopi sebelum kamu minum”.

“Lah..Kan panas, gak mungkin juga kan harus diminum langsung ?”, Jawabnya heran.

“Memang… tidak ada yang suka dengan kopi panas, tapi bagiku Kopi adalah filosofi, Kalau kamu adalah penikmat kopi, kamu tidak akan meniupnya, penikmat kopi akan mencium aromanya terlebih dahulu, kemudian baru mempersilahkan indera perasa untuk melakukan tugasnya, bukan meniup seperti halnya mengusir kenikmatan kopi, seakan kamu menolak setiap kehadiran aromanya, apapun jenisnya semua selalu ada filosofi”, Jawabku.

Kaiya pun menjadi bengong, suasana menjadi hening sementara  suara jangkrik diluar kenapa semakin terdengar keras, semoga obrolan ini tidak garing, dan semoga dia adalah orang yang menghargai makna dari segala hal,tiba-tiba Dia menatapku dan bertanya,

“Jadi Kopi punya makna yang harus dipahami ?”.

“Ya paling tidak bagiku sih, gak tahu kalau bagi orang lain, termasuk kamu pun”, Kataku padanya.

“Baru kali ini lho, aku denger kalau kopi itu berfilosofi, biasanya sih bodo amat”, Katanya.

“Bukan hanya itu, setiap jenis kopi pun ada maknanya sendiri, Kopi yang Kamu minum adalah cappuccino kan ?”, Tanyaku.

“He…em, tahu darimana ? Jangan-Jangan Kamu merhatiin aku daritadi ya ? Haha… atau ada filosofi tentang cappuccino ?”, Jawabnya sembari mengangguk.

“Tercium dari aromanya, ketika disajikan aroma cappuccino akan menyebar harum, tapi tak berlangsung lama, penyajiannya pun tak boleh asal-asalan, nilai pertama dari cappuccino adalah good looking, untuknya cappuccino adalah simbol kecantikan, kopi yang pantas dinikmati oleh perempuan sepertimu, bukan soal cantikmu, tapi soal filosofi kecantikan cappuccino yang mudah hilang seperti halnya kecantikan seseorang, begitulah kiranya”.

“Kay.. Lihatlah cewek-cewek di sana…”, aku menunjuk sekumpulan cewek-cewek yang sedang ngerumpi lengkap dengan kopinya.

“Apakah mereka adalah penikmat Kopi ?”, tanyaku pada Kaiya.

“Ya secara umum sih, Iya jawabnya… mereka terlihat asyik dengan obrolan yang ditemani kopi”, Jawab Kaiya.

“Lalu bagaimana Kopinya ? Hanya menjadi alat pemersatu mereka ? seperti halnya pacaran tapi ngajak temen untuk nemenin, kasihan dong temennya jadi kacang ? sama kayak kopi, Kopi adalah pemeran utamanya tapi kenapa justru terabaikan ? menjadi dingin, lalu baru dinimati, inikah penikmat kopi ?”.

“Gila… susah ini kalau ketemu orang yang filosofinya tinggi… Tapi bener juga sih, eh tapi satu pertanyaan lagi, bagaimana dengan Kopi yang dinikmati waktu sendiri ? Kenapa begitu nikmat ya ?”, Tanya Kaiya.

Aku tersenyum tapi Aku tak menjawab pertanyaannya,justru  aku berdiri dan beranjak pergi menuju meja kasir cafe untuk membayar, Kaiya tambah heran dan bilang kepadaku,

“Eh…eh… Sabrang, mau kemana ? ini pertanyaan belum dijawab juga…”.

“Nanti Aku jawab setelah ucapan terimakasih darimu ketika kita bertemu kembali di tempat yang sama”, Jawabku lalu terus berjalan menuju meja kasir.

“Hey… maksudnya apa sih, terimakasih ? terimakasih untuk apa ?”.

“Sabraaaang…”.

Aku meninggalkan Kaiya sendiri, bukan berarti aku lari dari pertanyaan tentang kopi, hanya saja aku ada urusan yang lebih penting dari sekedar diskusi.

Seperti itulah Kopi bagiku, kenapa aku jarang sekali minum kopi, karena memang bukan waktu yang tepat, aku tidak pernah ingin mengabaikan kopi, sebab kopi bukan semata hanya tercipta dari tangan seorang barista, apapun jenisnya, Baik Arabican, Java, Robusta, Toraja, Gayo, bahkan semacam Kopi Tubruk, Coffee Latte, Cappuccino, Moccaccino, Expresso, Creamy Latte, dll… tetaplah kopi yang tercipta dari rasa dan kumpulan cinta, berawal dari benih yang ditanam dengan segenggam cinta dan kemudian tumbuh besar, bunga yang terganti oleh buah, hingga biji kopi tumbuh dewasa dan siap untuk dipanen, disangrai dalam bentuk bean ataupun blend kopi bubuk yang dijual secara kemasan, keduanya terselip kata cinta dalam setiap butirannya.

Beberapa minggu setelah bertemu dengan Kaiya, aku mengunjungi cafe itu kembali, berharap Kaiya pun ada di sana, sebab aku masih punya janji untuk sebuah pertanyaan darinya yang masih belum ku jawab, beberapa minggu cafe ini sudah banyak renovasi, dari nama sampai dekorasi ruangan pun telah berganti, dekorasi motif kayu dari wallpaper dinding menghiasi ruangannya, tetap poster-poster motivasi tentang hidup sampai kopi pun ada di sana, lengkaplah tempat ini bagi mereka yang datang mendamba suasana, ingat s-u-a-s-a-n-a, bukan tentang Kopi sebagai tujuan utamanya. Perlahan masuk ke dalam cafe, irama musik klasik datang menyantuni telingaku, menuju barista tempat dimana kopi dicipta, kali ini biarlah aku memperkenalkanmu pada satu jenis kopi yang begitu aku suka,

“Kopi tubruk satu !”, Kataku kepada seorang barista.

Yup.. Kopi tubruk, kopi original kalau boleh aku katakan, kopi tanpa sentuhan apapun di dalamnya, Kopi sederhana yang mungkin semua orang bisa membuatnya, tapi benarkah demikian ? ah sebentar dulu, siapakah perempuan yang duduk di sana ? rambut panjang terurai, apakah Kaiya ? benar saja, dan aku segera menuju tempat duduknya.

“Permisi Mbak, boleh gabung, meja semua penuh soalnya”.

Kaiya menengok, “Ya.. silaaaa…. Eh Sabrang… Kebetulan gini ya ?”.

“Haha.. Iya nih, kejadiannya sama persis beberapa minggu yang lalu, bedanya sih aku yang duduk di situ”, Jawabku.

“Atau mau diulang kejadiannya ? haha…”, Candanya.

“Enggak ah, yang diulang gak pernah se-asyik yang pertama. Sendiri aja nih, kesepian ? ”, tanyaku.

“Asyiiiiikkkkk…. Ye dilemparin ke aku pertanyaanku waktu lalu, Enggak lagi pengen aja kesini, eh…eh… terimakasih ya, udah dibayarin kemarin kopinya, ini to maksudnya terimakasih”.

“Eh tapi kamu masih punya hutang satu jawaban ke aku lho, eitss tumben pesen kopi, ada apa ini ? momentnya pas mungkin ?”, tambahnya.

“Ikut aku ke atas yuk, ada meja kosong di atas, mungkin bisa lebih enak ngobrolnya”.

Aku mengajak Kaiya pindah ke atas, di lantai dua cafe ini, tempat yang baru saja selesai pembuatannya, di lantai dua, tidak ada atap penutup, hanya kursi-kursi dan meja yang ditata sedemikian rupa hingga menyuguhkan sebuah suasana yang begitu terkonsep. Pengunjung dipaksa menikmati tatapan pemandangan khas gemerlap lampu kota di depannya, sebuah karya arsitek Tuhan yang tak pernah terencana oleh manusia. Lampu kuning tak pernah menghilang dari dekorasi cafe ini, benar-benar pemiliknya ingin menunjukkan kepada pengunjung betapa dia mengagumi seni klasik dan keindahan.  Aku memilih tempat duduk dipojok pagar, di samping stand lamp yang berdiri sebagai cahaya, obrolan pun dimulai.

“Keren ya brang, gak nyangka di atas seindah ini, Eh ngomong-ngomong, Kok tumben pesen kopi ? apa nih filosofinya kopi tubruk ? jauh-jauh Cuma minum kopi tubruk yang bisa dibuat di rumah, tentunya bukan sabrang dong”, Kata Kaiya.

“Kopi Tubruk, Kopi yang begitu sederhana, seperti katamu siapapun bisa membuatnya di rumah, tapi cobalah untuk mencium aromanya dahulu, tenang saja belum aku minum kok”, Aku menyodorkan cangkir kopi kepada kaiya.

Kaiya mencium aroma dari kopi tubruk, dalam-dalam dia menghirup aromanya, dia tampak diam sebentar, kemudian dia berkata, “Harum sekali bau kopinya, natural lebih dominan pada jenis kopi tubruk”.

“Yup.. Kamu mulai mengenali apa itu kopi, Kopi tubruk adalah kopi alami, melambangkan kesederhanaan dalam setiap penikmatnya, dia menjadi sifat dasar dari rasa kopi, kopi yang begitu jujur oleh rasa dan penampilan yang begitu apa adanya, berbeda dengan cappuccino yang kau pegang, Kopi tubruk tak pernah menjanjikan rasa yang berubah, 5 menit disajikan dengan 5 jam disajikan rasanya akan tetap sama, tetap akan ada rasa pahit yang menyertai rasa di awal maupun akhir, aromanya pun tak berubah sedikitpun, itulah kenapa aku begitu menyukai kopi tubruk, pembuatnya pun bukan asal-asalan seorang barista, dia harus pandai memainkan bahan, suhu dan temperatur dalam pembuatannya, tanpa itu Kopi tubruk tak akan senikmat ini”.

“Dan seandainya kita seperti Kopi Tubruk, yang tak berpura-pura untuk segala kekurangan kita, mungkin tidak akan ada konflik tentang muka dua atau mencari muka”, tambahku.

Kaiya diam untuk beberapa saat, tampak diamnya tak seperti biasa, dan kenapa aku pun menjadi gaguk untuk membuka kembali obrolan kami, aku gak tahu harus berbuat apa, terpaksa aku hanya nyruput kopi sedikit demi sedikit, hingga akhirnya Kaiya pun berani membuka obrolan kembali.

“Brang… Kamu mengingatkan aku kepada sosok orang yang begitu ku rindukan sampai saat ini, hidupnya selalu penuh dengan makna, setiap melangkah selalu ada falsafah, seakan sama sepertimu, filosofi dalam secangkir kopi”.

Entah kenapa suasana menjadi serba dramatis begini, seolah semua adalah kompisisi yang pas, antara kopi, angin, cuaca dan suasana yang begitu menenangkan.

“Siapakah itu ? pacarmu ?”, tanyaku.

Kaiya menggelengkan kepala lalu berdiri dari tempat duduknya, “Bukan… Dialah almarhum ayah yang sangat ku rindukan, dialah seorang laki-laki pertama yang ku jatuhkan segenap cinta, tapi entah kenapa Tuhan memanggilnya begitu cepat, saat aku mulai memahami apa itu keluarga dan kasih sayang orang tua”.

“Memang terkadang kamu berpikir bahwa hidup ini tak pernah adil untuk sebuah penghakiman Tuhan, tapi lihatlah sejarah dan masa silam, orang-orang yang berhati baik selalu dikumpulkan dan dipanggil terlebih dahulu oleh Tuhan, mungkin Tuhan mendahulukan tempat yang istimewa bagi mereka, termasuk Alm. Ayahmu”, Aku berdiri dari tempat duduk merapat ke pagar pembatas dari atap cafe.

“Terimakasih sabrang, Entah kenapa tiba-tiba aku bisa bilang ini kepadamu, suasana menjadi serba haru seperti ini, maaf ya…”.

“Tidak apalah, Kay.. Kamu pun orang pertama yang aku ceritakan begitu panjang soal kopi”, Jawabku.

“Brang.. Kamu seorang barista ? dari caramu menjelaskan tentang makna sebuah kopi, bohong rasanya kamu tidak akrab dengan kopi ?”,Tanya Kaiya.

“Bukan… Aku bukan seorang barista, bahkan aku tak pandai membuat kopi sendiri, aku hanya membaca buku, belajar dari alam, sehingga mampu mengatakan bahwa kopi penuh dengan filosofi”.

“Jadi bermula darimana kamu mulai menyukai Kopi ?”, Kaiya bertanya kembali.

Aku menatap wajah Kaiya, “Kau ingin tahu ? apakah kamu kosong seharian ?”.

“Eeeee…. Aku free kok besok…”, Jawab Kaiya melempar senyum.

“Besok pagi-pagi sekali aku sudah berada di sini, datanglah ke sini, ku ajak kamu ke tempat di mana aku mulai menyukai secangkir kopi, bahkan mungkin untuk sebuah kopi yang sama sekali kamu belum pernah menikmatinya, Mau ?”.

Kaiya mengangguk pertanda dia mengiyakan ajakanku, Tuhan jangan biarkan perempuan ini kecewa besok, Alam persiapkan secangkir Kopi untuk Kaiya.

To be continued……

Advertisements

Author:

I'm Textrovert. Seseorang yang begitu mudah menuliskan namun begitu susah mengungkapkan. Pengagum senja di pangkuan buku dan pena. Tentu saja dengan secangkir teh di samping tangan kanannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s