Posted in Tulisan

Asmara Tak Bertanda

Apakah kau percaya pada sebuah kebetulan ? Banyak orang berkata kebetulan hanyalah moment ketika sesuatu terjadi diluar kata kesengajaan. Banyak pula yang berkata kebetulan adalah kebenaran yang dipaksakan. Tapi tidak bagiku Kebetulan adalah bagian dari sesuatu yang telah direncanakan, hanya saja kita belum menyadarinya, sebab dalam kebetulan selalu ada campur tangan dari kuasa Tuhan, seperti kehadiranmu, seorang perempuan diujung perahu, tepat berada di hadapanku, mataku tak jengah untuk selalu menatap malu kepadamu, bagai seorang pencuri yang selalu mencari celah agar pemiliknya tak menyadari, beberapa kali kau membalas tatapanku, dengan secepat kilat selalu ku alihkan pandanganku, berharap Kau tak tahu jika di depanmu ada seseorang yang begitu memperhatikanmu. Hanya sebentar Kau menatapku, sebab matamu tak pernah mau diusik untuk sebuah pemandangan yang begitu asik, tak jemu selayang pandang matamu memandang ke arah lautan lapang, seolah sekecil partikel pun tak ada yang berlalu dari tatapan matamu, entah darimana asalmu, dan kenapa Tuhan meletakanmu pada sebuah perahu yang didalamnya pun ada Aku ? Kau bisa saja di atas perahu lainnya, duduk pada bangku tanpa ada seseorang yang memperhatikanmu, ini kah sebuah kebetulan ? Atau inikah cara Tuhan, untuk tetap membuat jantung berirama tak karuan ?

Selama perahu melaju, tanganmu tak beralih dari kata berpangku, beberapa teman perempuanmu, terlihat nyaman bersandar pada pundakmu, angin berirama khas tengah lautan, mengayun perlahan diantara kedua kelopak mata untuk menghadirkan sebuah kantuk yang tak tertahankan. Benar saja kau terlelap dalam sebuah perjalanan, apakah aku berhenti sampai di sini ? Tidak, dalam tidurmu aku pun tetap memperhatikanmu, mungkin kau adalah orang yang ramah, sebab dalam tidurmu pun tetap kau bawa senyumanmu, cukup lama kita berada di tengah lautan menuju sebuah pulau yang tak bertuan, perlahan perahu mendekati ujung dari destinasi, hamparan pasir putih yang luas telah nampak terbentang, perahu sampai pada dermaga pertanda tujuan telah tercapai, sebuah pulau yang tepat untuk menghabiskan penat setelah aktifitas yang begitu berat.
Orang-orang berhamburan turun menuju hamparan pasir, dan tetap saja mataku sibuk mencarimu, kenapa kah ini Tuhan ? Bukankah tujuanku hanya ingin menikmati keindahan alammu ? Kenapa Kau hadirkan dia, untuk bersanding dengan pantai dan dermaga ? Bagaimana aku harus memilih mana yang  menjadi tujuan liburanku, sedangkan mereka adalah komposisi yang tak mungkin terpisah ketika telah beradu didepan mataku ? Berharap aku mampu menepis segala kekagumanku terhadapmu, mencoba berlalu, namun ditengah langkahku, kau tiba-tiba muncul di hadapanku, tanpa ada sebuah perkenalan, kau berkata padaku, “Mas, tolong ambilkan beberapa fotoku, bisa ?”, ah mana mungkin ku tolak permintaanmu, di depan layar handphone mu, terlihat jelas senyumanmu, perempuan dengan kumis tipis yang teramat manis, dengan ucapan terimakasih darimu aku kembalikan handphonemu. Apakah ini berhenti di sini saja ? Tidak, Tuhan pun meletakkanmu, di atas kayu mati di depan ombak yang menepi. Kau duduk memandang ke arah lautan. Langit biru, pasir putih dan perempuan yang begitu indah dipandang dari belakang, mereka berada di hadapanku sekarang, ingin sekali aku menyela kesibukanmu, duduk di sampingmu, menghabiskan cerita dengan sedikit tertawa manja, tapi sayang aku adalah orang yang begitu mudah menuliskan, namun begitu sulit untuk mengatakan, aku hanya mampu menghadirkan deretan tulisan sebagai wujud dari perasaan, sebagai cindera mata dari asmara yang tak bertanda. Untuknya, dimanapun kau berada sekarang, 

“Terimakasih atas kehadiranmu, di tengah liburanku, entah kau masih sendiri atau telah dimiliki, Bagiku kau tetap karunia Tuhan untuk sebuah kata Keindahan, tetaplah tersenyum dalam setiap hari yang kau jalani, dariku untukmu semoga Tuhan menentukan kita bertemu kembali pada waktu di lain hari”.

Asmara Tak Bertanda

Han.Y Rahmat

Advertisements

Author:

I'm Textrovert. Seseorang yang begitu mudah menuliskan namun begitu susah mengungkapkan. Pengagum senja di pangkuan buku dan pena. Tentu saja dengan secangkir teh di samping tangan kanannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s