Posted in Tulisan

HUJAN

​Saya akan mengawali sebuah tulisan malam ini dengan kalimat, “Hujan bukanlah tentang tetesan, melainkan serdadu kenangan yang gugur secara perlahan”.

Bagaimana denganmu saat hujan turun ? Masihkah kau memikirkan sesuatu tentangnya ? Ya.. tentangnya yang pernah singgah dalam tahta hatimu, bukan tentang waktu berapa lama dia bertahan, tapi tentang seberapa kenangan tentangnya yang mampu kau kenang sekarang.

Bagi sebagian orang, hujan hanyalah air yang jatuh secara bersamaan dan akan menghilang melalui proses peresapan, singkatnya hujan datang dan berlalu, tapi benarkah seperti itu ? Dia (hujan) berlalu tanpa menyisakan sesuatu ? Percayalah, dalam setiap perginya diantara genangan air, selalu ada kenangan yang terukir.

Sebutlah dia seorang perempuan, yang tinggal bersama ibunya pada sebuah warung tepat dimana aku berteduh sekarang, entah siapa namanya, saat hujan datang dia hanya bermain bersama gelas yang dia gulingkan kesana kemari, terkadang tatapannya kosong ke arah luar, tak jelas raut wajahnya, entah bahagia atau sedang tertundung duka, sebab cahaya dalam warung ini hanyalah lampu minyak yang hilir mudik ke sana ke mari, tapi bagiku perempuan adalah maha misteri, perempuan adalah tentang yang tak dia ucapkan, seperti halnya dia, hanya menduga dan menerka dari segala rasa penasaran, mungkin dalam benaknya sedang ada kenangan yang berlari tak karuan, sedang ibunya hanya menatap lepas suasana malam ini, berharap dagangannya cepat habis terbeli, hening sekali suasana di sini, saat mereka larut dalam penantian dan kopi, entah bagaimana nikmatnya buat saya, mengaduk kopi sambil menanti, karena bagi saya kopi bukanlah untuk para penanti, tapi kopi lebih pas untuk bekal mereka yang sedang berinspirasi, bersanding dengan puisi dan beberapa buku untuk dinikmati dalam setiap narasi. Ada beberapa orang yang larut dalam obrolan, awalnya mungkin mereka tak saling kenal, tapi karena hujan mereka menjadi orang-orang yang enggan mengakhiri obrolan. Adapun perempuan diantara kita yang hanya menatap kaca jendela, mungkin lebih tepatnya adalah penyesalan tentang apa yang telah dia lakukan, tapi seolah dia pun menikmatinya, embun yang berbuih mengalir perih, pada setiap irama lagu yang dia dengarkan hanyalah nada-nada perpisahan, dalam setiap sudut kamarnya membekas tangis yang tercipta dari matanya, genangan air mata masih saja berteriak tentang sebuah nama yang saat ini mungkin dia sedang ingin bersamanya, menerbangkan kenangan dan memulai sebuah harapan bahwa malam ini hujan tak lagi menciptakan genangan air di matanya.

Hujan malam ini pun tak kunjung reda, gerimis senantiasa menghiasi pengharapan yang semakin miris, entah bagaimana kuasa Tuhan mampu membuat hujan menjadi simbol keromantisan, seolah obrolan menjadi lebih indah ketika hujan datang, mengenang adalah kebiasaan yang biasa setiap orang lakukan, tapi entah kenapa saat hujan semua itu menjadi sangat indah untuk dilakukan, walaupun kadang kala ada mereka yang hanya menjual suasana atas nama hujan, berkata menyukai hujan di hadapan kekasihnya tapi lain waktu dia memaki atas kedatangannya, mereka mungkin bisa berpura-pura merangkai sejuta kata akan keindahan, memuja kedatangannya dengan ratusan kata-kata, satu saja pertanyaan saya, kenapa mereka menghindar saat hujan menyapanya ? Ah sudahlah sekali lagi ini tentang manusia.

Setiap kedatangan akan menimbulkan suka dan benci, sama halnya dengan hujan, kenapa kita harus memaki ? Bagaimana mungkin kita tau bahwa Hujan adalah penghalang segala aktifitas kita ? Sedang dia hanya digariskan untuk datang sesuai dengan permintaan yang Maha Kuasa, lantas apakah kita harus memakinya ? Kita mungkin benci, atas airnya yang telah membasahi baju kita, menciptakan sebuah dingin membuat tubuhmu menggigil, tapi bagaimanakah selain kamu ? Apakah mereka juga sama denganmu ? Tidak bukan ? Ada diantara mereka yang suka dengan kedatangan hujan, menyirami sawah para petani, membasahi seluruh rindu, dan menciptakan aroma yang khas ketika datangnya menyentuh tanah, Benci atau suka hujan akan tetap datang menyapa, hadirnya akan selalu dinanti bagi mereka yang menghargai memori, dan akan selalu dicaci bagi mereka yang punya ego tinggi, tapi satu hal saja, Hujan Akan tetap dan selalu datang !

Untuknya, Selamat Datang Hujan ! Aku menyukaimu.
HUJAN

Fri, 16 Dec 2016

Han. Y Rahmat

Advertisements

Author:

I'm Textrovert. Seseorang yang begitu mudah menuliskan namun begitu susah mengungkapkan. Pengagum senja di pangkuan buku dan pena. Tentu saja dengan secangkir teh di samping tangan kanannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s