Posted in Novel

SABRANG

Jaman dulu pada tahun 1950-an, ketika belum banyak sekolah berdiri, pendidikan hanya sampai pada tingkat dasar, mereka yang mampu bisa melanjutkan ke jenjang berikutnya, bagi yang tidak, cukuplah pendidikan dasar menjadi modal untuk menyambung hidup melalui dunia pendidikan, sedang Saya bersekolah di sekolah rakyat, sekolah yang setara dengan kelas menengah, bedanya sekolah ini ketika lulus sudah bisa menjadi guru pengajar, sekolah rakyat adalah sekolah elite milik pemerintah pada waktu itu, saya di sini bukan karena Saya adalah orang yang mampu, orang tua Saya hanyalah seorang petani, yang membuat Saya bisa duduk di bangku sekolah rakyat adalah peran dari pemerintah setempat yang menyekolahkan Saya sebagai wakil dari desa yang dipercaya mampu untuk mengemban dunia pendidikan yang lebih tinggi. Begitu susahnya kami belajar di masa ini, tidak ada waktu untuk bergurau ketika pelajaran sangat keras sekali diberikan, sepatu dan tempelengan guru sudah menjadi hal yang wajar menerpa wajah kami, sedikitpun kami tak pernah menyesal, karena semua itu adalah wujud dari ulah kami sendiri, kerasnya dunia pendidikan tak jarang membuat mereka kawan-kawan Saya hengkang, termasuk Saya terkadang tertekan dengan kerasnya pendidikan jaman ini, namun ada sesuatu yang membuat Saya tegar disini, satu adalah do’a Ibu Saya, dan yang kedua adalah seorang perempuan yang sekarang ini berada di samping Saya, perempuan yang begitu sempurna di mata Saya, perempuan yang tercipta dari tangan keindahan Tuhan, Perempuan yang menjadi lambang kesederhanaan, dialah perempuan yang mewakili segalanya, dia bernama Anisa. Beruntung sekali kata orang-orang, Saya mampu mendapatkan Anisa, Dia begitu indah untuk dilukiskan, dengan jilbab dan kesederhanaan membuatnya layak untuk menjadi rebutan para pemuda-pemuda desa, dialah bunga desa Utara, wajarlah Anisa bila menjadi pandangan mereka, selain cantik parasnya, Dia pun berasal dari keluarga yang mampu untuk sekedar bersekolah di sekolah rakyat, orang tuanya adalah pegawai sipil pemerintah setempat, sehingga membuatnya terpandang ditengah desa Utara, namun kenapa dia memilih Saya untuk menjadi kekasihnya ? 

Anisa tinggal satu desa dengan Saya, namun beda kedukuhan, Setiap hari kami pergi ke sekolah bersama, jarak sekolah yang cukup jauh membuat Saya harus rela mengkayuh, Anisa senantiasa duduk di boncengan belakang, seakan dia menjadi do’a yang terucap di sela laju roda sepeda kumbang milik saya, sudah 2 tahun Saya menjadi kekasihnya, sejak kelas satu hingga kelas tiga sampai sekarang, kami satu kelas di sekolah rakyat, Anisa sangat pandai sekali dalam ilmu agama dan perhitungan, pernah suatu waktu Saya bertanya,

“Anisa, kelak ketika dewasa kau bercita menjadi apa ?”, tanya Saya kepada Anisa.

“Hmm.. Saya ingin menjadi seorang ilmuwan yang mampu menciptakan sesuatu untuk negeri kita”, jawab Anisa.

Kemudian Saya berkata, “Benarkah ? Semoga kelak namamu akan menghiasi dunia ilmu pengetahuan Anisa, andai Saya membaca sebuah buku tentang pengetahuan, Saya harap namamu pun menghiasi buku yang Saya baca, selama buku itu terbaca, segala macam pahala mengalir laksana air”.

Anisa tersenyum kepada Saya, hening lantas bertanya, “Kau bercita menjadi apa Sabrang ?”.

“Saya ? Saya hanya ingin menjadi seorang petani dan juga pengajar, Saya rasa pendidikan sekarang sangat susah untuk diberikan kepada setiap orang, Saya hanya ingin berbagi ilmu dengan mereka, dan tidak terbatas dengan biaya, bagi orang yang kurang beruntung seperti Saya, pasti lah menjadi suatu halangan untuk mendapat anyaman dunia pendidikan, untuknya Saya ingin mengajar mereka”, Jawab Saya.

“Elok sekali Sabrang, semoga Tuhan mendengarnya, bersama lantunan Do’a daripada malaikatnya”, Jawab Anisa.

Saya sebenarnya tak pandai dalam pelajaran khusus, namun entah mengapa Saya begitu mengagumi pelajaran sastra, darimana asalnya, Saya tidak tahu, ketika pelajaran sastra dimulai seolah Saya berhadapan dengan seorang guru sendiri, Saya merasa hidup dengan sastra, tidak perlu muluk-muluk soal sastra negara luar, Saya hanya ingin begitu faham dengan sastra negara Indonesia, menulis cerita adalah kegiatan yang sangat sering Saya lakukan, entah Saya menjadi sastrawan atau bukan, entah Saya akan terkenang atau terlupakan, Saya hanya ingin berkarya dengan sastra, hingga selebihnya tulisan Saya akan dikenang atau terbuang.

Seolah waktu selalu merestui Saya dengan Anisa, Setiap hari kami bertemu, setiap hari pula rasa cinta ini tumbuh, selepas ashar Kami mengaji di surau dekat dengan rumah Anisa, Saya menjemputnya dengan sepeda, lalu berangkat dengan berjalan kaki, sepeda Saya tatih berjalan bersama Saya, setelah mengaji Saya selalu meluangkan waktu ke bukit dekat dengan perkebunan kelapa di desa, tidak untuk setiap hari, tapi paling tidak hampir seminggu 4 kali, sering pula Anisa ikut pergi ke bukit, katanya kenapa dia tak berfikir seperti Saya dengan pergi ke bukit menemui matahari yang tenggelam yang sungguh indah. Suatu hari dalam perginya bersama Saya, dia bertanya kepada Saya, dengan tatapan nanar seolah ini adalah pengadilan yang harus Saya hadapi,

“Sabrang, bolehkah Saya bertanya ?”, tanya Anisa.

“Silahkan, Anisa.. Sangat jarang sekali dengan tatapan seperti itu kau bertanya, ada apa Anisa ?”, Jawab Saya.

“Sabrang, terlalu sering Kau membawa Saya ke sini, dengan maha indahnya melihat matahari terbenam di atas bukit, bahkan Saya sendiri pun tak menyadarinya, kenapa kau begitu menyukai senja di sini, Sabrang ?”, Anisa bertanya sambil menatap Saya.

Dalam hati Saya berkata, Tuhan tatapan matanya, menembus batas kekuasaan Saya, begitu indahnya karyamu pada perempuan ini, masuk ke dalam matanya seolah tercermin segala keindahan semesta.

“Sabrang, kenapa Diam ? Adakah Saya mengingatkan akan sesuatu yang menyakitkan ? Bila memang iya, tak usah dijawab pertanyaan Saya”, Kata Anisa membuyarkan lamunan Saya.

“Eeeehhhhh… Annn.. Nisa.. Anissa… Kau bertanya sesuatu yang Saya tidak tahu jawabnya, tapi jikalau kau harus mendapat jawabnya, Saya akan mencoba menjawab, Senja adalah cara Saya melihat sisi perempuan dari Tuhan, begitu Saya menatapnya, seolah di hadapan Saya berdiri seorang perempuan dengan melambai perpisahan”, Jawab Saya kepadanya.

“Mengilhami Tuhan bagai perempuan ? Apakah Kau berkata bahwa Tuhan adalah perempuan ?”, Tanya Anisa lagi.

“Tergantung, ketika Saya melihat Ibu Saya dan senja, Saya melihat sisi perempuannya Tuhan, dan ketika Saya melihat Bapak Saya bekerja, Saya melihat sisi laki-laki dari Tuhan, itulah konsep ketuhanan menurut Saya”, Saya menjawab pertanyaan Anisa.

Kemudian Dia menyambung pertanyaannya, “Bagaimana pula Senja mampu menggambar perpisahan, sedang Saya merasa penuh keromantisan ?”.

Saya menjawab dengan berpaling dari Anisa, “Anisa percayalah,  hal yang paling romantis adalah saat hampir merasa kehilangan, di sanalah logika berjalan, bukankah inti dari pertemuan adalah berujung perpisahan ? Layaknya senja yang pulang, dan kita hanya mampu menikmati sebentar saja”.

Beberapa detik, Saya merasa terkejut, Anisa merangkul Saya dari belakang, dan berkata, “Sabrang… Biarlah keindahan laksana senja hanya sebentar saja, tapi bila Saya mengarunginya bersamamu, Saya akan merasa hidup selamanya, berjanjilah untuk tidak melepas Saya”.

Penuh haru Saya mendengar itu, Saya membalik badan, menyibak jilbab yang terurai di depan wajahnya, Saya berkata, “Anisa, tak akan kuasa Saya menolak waktu ketika kita bersama, Insya Allah dengan ijin Tuhan, Saya akan menjagamu dengan penuh tanggung jawab, Saya tak mampu berjanji untuk memberikan kemewahan untukmu, tapi sejengkal Saya melangkah, bila itu adalah bahagia untukmu, maka Saya berjalan memenuhi rasa bahagiamu”.

Suasana menjadi hening, tanpa suara keluar diantara kami, tiba-tiba Anisa berkata, “Entah bersama Saya atau tidak, Saya ingin Kau berjanji juga, kelak ketika sudah selesai masa pendidikanmu, Saya ingin Kau membangun sebuah tempat belajar, yang menampung anak-anak yang tidak mampu, ajarilah mereka apa yang telah Kau ajar kepada Saya, mereka butuh Kau sebagai pengajar Sabrang, dengan segala pemahaman mereka tidak akan patah semangat untuk melanjutkan hidup, Jika Saya masih mampu menemanimu maka Saya akan selalu berada tepat di sampingmu, memberikan dorongan dan sandaran ketika lelah sedang menyantunimu”.

“Insya Allah, Saya akan mewujudkan inginmu itu, Anisa.. Bersama kita berdua akan mendidik mereka, duduklah bersama Saya, kawani Saya, menjadi istri dan Ibu dari anak Saya kelak, hidup pada garis kesederhanaan, susah senang kita akan mencari kebahagiaan bersama, untuk segala kurang saya, maka balutlah dengan kelebihanmu Anisa, dan begitu sebaliknya..”, Jawaban Saya mengawali langkah kami untuk pulang ke rumah, karena hari sudah larut.

Begitulah Saya setiap hari bersama Anisa, penuh cinta dan kasih Sayang, di keluarga Saya pun Anisa sudah mendapat tempat istimewa, tapi Saya belum berani untuk berbicara lanjut kepada orang tua Anisa, Ibu Bapak Saya selalu memperingatkan untuk tanggung jawab dalam membawa nama baik anak orang, suatu hari Saya sedang berbicara dengan keluarga Saya, entah darimana asalnya, obrolan kami mengarah pada Anisa, dan tiba-tiba Ibu Saya berkata, “Ingat le, Kau anak laki-laki, seberapa pun Kau mencintai Anisa, yang terpenting adalah restu dari keluarganya, Selain itu Kau harus berani dan tanggung jawab, cinta bukan mainan le.. Cinta adalah kesungguhan dari dua orang yang saling dipertemukan”.

“Betul, apa yang dikatakan Ibumu, dulu Bapak mendapatkan Ibumu bukan karena Bapak ini kaya, tapi karena Ibumu jatuh cinta pada pemikiran Bapak, tanggung jawab adalah mas kawin yang Bapak berikan kepada keluarga Ibumu, penuh dengan kasih Sayang, kami membangun keluarga, dan tidak ada yang lebih indah daripada bahagia selain kehadiran dan tangismu sewaktu kecil, Kami mengikat janji menjadi keluarga yang cukup untuk kebahagiaan”, tambah Bapak Saya.

“Insya allah pak, apa yang Bapak Ibu katakan, akan Saya penuhi, Saya akan bertanggung jawab sebagaimana Bapak kepada Ibu, percayalah pak, Saya dibesarkan dengan dengan perpaduan tanggung jawab Bapak, serta kepintaran dan kasih Sayang Ibu”, jawab Saya.

Hari berganti hari, rasa cinta semakin terpupuk dan membesar, Saya ingat ketika itu Saya sedang bersama Anisa pulang sekolah hujan turun dengan deras, Saya berteduh di sebuah gubuk, namun tiba-tiba Anisa mengajak untuk pulang saja, padahal hujan begitu deras.

“Sabrang, ayo kita pulang !! “, ajak Anisa.

“Bukankah hujan masih begitu derasnya Anisa ? Kau bisa sakit jika hujan tetap bersikeras untuk pergi”, Saya berusaha menolak.

Tapi perkataan Anisa membuat Saya begitu percaya bahwa dialah orang yang tepat untuk menjadi pendamping hidup.

“Bila Kau bisa menjadi pengagum senja, maka Saya adalah pengagum Hujan, Sabrang.. Kenapa harus kau hindari kedatangannya, bila disanalah rIbuan kenangan berjatuhan ? Kenapa harus kau tolak kehadirannya, bilamana Ia sudah seharusnya datang ?”, Jawabnya.

“Bagaimana Kau mengilhami Hujan ?”, Saya bertanya kepadanya.

“Hujan bagai cinta, datang tak mengucap salam, pergi tak mengucap permisi, hilangnya laksana janji yang tak mampu menjamin kehadirannya, untuk apa kita harus menghindar, bila dia memang harus datang biarlah dia menuntaskan kehadirannya”, Jawab Anisa.

Dalam batin Saya, ya Tuhan sisakan beberapa makhluk seperti Anisa untuk orang-orang baik, mereka pantas mendapatkannya, Saya mengagumi Dia, seperti halnya beberapa karya tentangnya telah menghiasi buku Saya. Pulang di tengah hujan yang sedang turun, menggigil kedinginan, namun terlihat Anisa begitu menikmati hujan yang datang, baiklah untuk rasa senyumnya tak boleh saya tolak keinginannya. Di lalin pihak ada beberapa orang sahabat Saya, terutama Priyo sahabat terbaik saya sewaktu kecil, sudah sangat sering memperingatkan Saya, untuk tidak terbenam dalam cinta yang berlebihan, sebab cinta terkadang buta tentang sekitar.

“Brang.. Bolehlah Kau mencintai Anisa lebih dari segalanya, tapi sadarlah bahwa segalanya bukan untuk Anisa saja, jangan sampai pula Cinta mengendalikanmu, sebab Kau yang seharusnya mengendalikannya”, begitulah kata Priyo.

“Benar… Benar sekali katamu, tapi entah kenapa aku begitu yakin tentang ketulusannya, aku begitu yakin Dia mampu hidup bersamaku”, Jawab Saya kepada Priyo.

“Ya sudah… Memang benar kata orang, hal yang paling sia-sia adalah menasehati orang yang sedang jatuh cinta, hahaha..”, Priyo berkata sambil tertawa dengan menepuk pundak Saya.

Sekolah mulai sibuk dengan agenda ujian sekolah yang semakin mendekat, kelulusan sudah diambang pintu, disela-sela sibuknya sekolah, datanglah seorang murid baru, Rudi namanya, tampaknya dia adalah seorang anak bangsawan yang kaya, terlihat dari cara guru-guru memperlakukannya, satu hal yang Saya tidak setuju, Ibu guru menaruhnya tepat duduk di sebelah Anisa, entah apa maksudnya, mungkin Anisa adalah murid paling ulet di kelas, sedikitpun Saya tidak menaruh perasaan cemburu, sebab Saya hafal betul bagaimana Anisa terhadap orang lain. Beberapa hari berselang sedetik pun Anisa tak berubah rasa terhadap Saya, tetaplah dia mencintai Saya, hingga sampai pada puncak keberanian Saya, suatu malam Saya beranikan untuk berbicara kepada orang tua Anisa tentang keseriusan Saya terhadap anaknya, Saya berdandan serapi mungkin, setelah Saya minta ijin kepada Bapak Ibu, Saya berangkat menuju rumah Anisa dengan sepeda kumbang Saya, tak lama waktu saya tempuh, Saya sudah tiba di rumahnya, perasaan berdebar tidak karuhan memenuhi rongga dada Saya.

Dalam batin Saya, “Bismillahirahmanirrahim… Saya harus berani, Tuhan bantu Saya..”.

Berjalan menuju pintu depan rumah Anisa yang tertutup, Saya mengetuk pintu, mengucap Salam namun tidak ada yang menjawab, Saya hendak mengetuk lagi, perlahan mulai terdengar suara isak tangis yang keras, Saya hafal ini suara Anisa, bersama isak tangis terdengar pula suara perempuan berbicara dengan nada tinggi, pastilah ini suara Ibunya.

“Kau mau jadi apa, berpacaran dengan pemuda petani desa ? Bagaimana hidupmu bisa terjamin jika masa depannya belum jelas ? Malu lah sama orang-orang sekitar jika Kau bukan diperistri anak sesama pegawai, berhentilah berhubungan dengan dia, Kau akan dijadikan budak di sawah, penuh lumpur kepanasan, Kau seharusnya duduk pada kursi mewah dengan balutan kain sutra di tubuhmu, bukan sebuah capil di kepalamu kelak..”, suara ini terdengar makin keras.

 Mungkinkah yang dibicarakan itu Saya ? Anisa dilarang bersama Saya ? Apakah benar…. belum sempat Saya berfikir suara Anisa memperjelasnya.

“Tapi Saya sudah mencintai Sabrang Tahunan lamanya, Saya tidak bisa mencintai orang lain, Saya sudah merasa bahagia”, suara Anisa dengan isak tangis.

“Omong Kosong.. Kau masih terlalu dini untuk mengenal cinta, turuti perintah Ibumu, Ibu lebih paham tentang bahagiamu, bagaimanapun Kau harus menikah dengan anak yang sederajat dengan kita, bukan Sabrang anak seorang petani melarat”,Jawab Ibunya.

Apa yang Saya rasakan saat itu adalah kecewa, sakit bercampur amarah, Saya urungkan niat Saya untuk bertamu, Saya kembali pulang ke rumah, untuk menenangkan pikiran, saya pun tak mau terbawa emosi tentang hal ini. Setibanya di rumah, Saya bercerita semuanya dengan Ibu Saya, Ibu Saya sedikit pun tidak tersinggung, sebaliknya beliau berkata,

“Biarlah nak, bahagia bukan Ibunya yang menciptakan tapi kalian, bila kalian sudahlah menjadi takdir untuk berpasangan, halilintar pun tak mampu memecahnya, tugasmu bukanlah melawan pemikiran Ibunya, tapi tugasmu hanyalah jalankan sesuai apa yang Kau jalani, biarkan Tuhan yang selesaikan apa yang tidak Kau kuasai, sudah bangunlah…”.

Benar mungkin Saya harus lapang dada, bila Anisa jodoh Saya, pastilah dia akan bersama Saya, Saya pun mencoba berperan seperti biasa, seolah Saya tidak berkunjung ke rumah Anisa dan tidak mendengar percakapan tadi malam, Saya pun tidak bercerita dengan Anisa, Saya tetap seperti biasa. Beberapa hari berlalu, Anisa pun tak juga berubah perasaannya, hingga pada suatu masa, saat sekolah mengadakan acara berdoa bersama untuk kelulusan, pertama kalinya Anisa menolak Saya jemput dengan alasan Dia berangkat bersama ayahnya, baiklah, Saya tidak keberatan, setibanya di sekolah entah kenapa Anisa begitu menghindari Saya, dia begitu akrab dengan Rudi beberapa hari terakhir. Sampai Priyo berkata kepada Saya, bahwa Anisa hari ini datang bersama Rudi dengan kereta mewahnya. Ya Tuhan apa yang sedang terjadi ? Mungkinkah ini jawaban atas Istikharah Saya ? Tampak jelas Anisa berubah haluan pemikiran 100%, Dia selalu menghindar dengan Saya, pernah Saya mengajak untuk bertemu dengan Saya di bukit beberapa kali, tapi dia menolak dengan ucapan, “Hiburan apa melihat matahari terbenam ? Saya butuh jalan-jalan ke kota bersama Rudi”.

Bagaimana seorang bisa berubah sedemikian singkatnya ? Saya pun masih menyangkalnya, namun pemikiran Saya tumbang oleh sepucuk surat yang datang dari Anisa dan dibawa oleh Priyo sore itu.

“Brang, ada surat untukmu, dari kekasihmu atau mungkin sudah menjadi Kekasihnya, ini…”, Kata Priyo sambil menyerahkan Surat dari Anisa.

Saya bawa surat itu ke bukit, berharap surat itu adalah ucapakan kasih Sayang kepada Saya, Saya membuka pelan sekali, Saya baca perlahan dan surat itu berbunyi :

“Untuk Sabrang..
Sabrang.. Mungkin sudah seharusnya Saya mengungkapkan perasaan Saya melalui surat ini, tertuju pada hubungan kita, Saya rasa hubungan ini sudah tak bisa dilanjutkan kembali, entah Kau menerima atau tidak, tapi di pihakku, Aku tak bisa bersamamu kembali, anggaplah hubungan kita sebagai pertemanan yang hangat untuk kita kenang di hari kelak, Bila kau bertanya apa alasan Saya menyudahi hubungan kita, ada beberapa pertimbangan. 
Pertama, Saya butuh kehidupan yang lebih layak, bukan maksud merendahkanmu, tapi memang benar Saya ingin hidup bersama Rudi yang lebih mampu menghidupi Saya, awalnya Saya merasa Kau lah orang yang mampu membuat Saya begitu tenang di pelukan, tapi Saya salah, Rudi mampu membuat Saya lebih tenang ketika Saya bersamanya, Kedua, Keluarga Saya menginginkan Saya untuk berdampingan dengan keluarga yang sama kedudukannya, setiap Ibu selalu ingin anaknya bahagia, begitu juga Ibu Saya, di keluarga saya, pernikahan harus terjadi kepada mereka yang sama derajatnya, Kau pun bukan ada pada syarat itu, adat ini sudah berlaku lama di keluarga saya.
Saya begitu mencintai Rudi, lebih daripada apa yang Saya rasa kepadamu, berhentilah menyakinkan Saya untuk berada di dekatmu, sebab Saya sudah tidak mau bersamamu kembali, Saya percaya Kau adalah orang yang baik, pastilah Kau akan mendapat orang yang lebih baik daripada Saya, dan sama kedudukannya.
Saya ingin kehidupan yang lebih layak, jika bersamamu mungkin Saya akan hidup serba apa adanya, sedangkan Saya butuh segalanya, Rudi mampu menjamin kehidupan Saya, bukan kau.
Terakhir kali, Saya meminta kepadamu, jangan halangi niat Saya bersama Rudi, Saya benar-benar ingin hidup bersamanya, lupakanlah segala apa yang telah kita lakukan, karena Saya pula sudah melupakannya, biarkan Saya hidup dengan kehidupan Saya, tanpa ada Kau sedikitpun, Kami akan menikah selepas kelulusan sekolah, Biarkan Saya pergi dan Bahagia”.


Air mata Saya jatuh pertama kali untuk seorang perempuan selain Ibu Saya, Saya genggam surat itu erat-erat, di hadapan senja Saya bertekuk pasrah, Saya bergegas datang ke rumah Anisa, Saya tiba di rumahnya, mengetuk pintu, dan Anisa membukanya, melihat Saya yang datang, pintu dibanting keras, pertanda Saya tidak diharapkan, Saya tetap berdiri disana, memohon untuk dibukakan pintu, Anisa pun mau membukanya,

“Anisa apa yang telah terjadi padamu ? Lupakah Kau dengan impian kita ? Dengan segala apa yang telah kita rencanakan ? Anisa Saya tahu Kau masih mencintai Saya, bicaralah Anisa bahwa surat ini tidak benar”, Kata Saya memegang tangan Anisa.

“Sabrang lepaskan !!! Saya sudah menjelaskan semuanya, pulanglah !!! Semua itu benar, Saya tidak mencintaimu, dan Saya sudah lupa dengan kenangan Kita, secuilpun tak ada rasa saya kepadamu, jadi jangan memohon belas kasihan untuk sebuah rasa cinta Saya”, Jawaban Anisa sambil melepaskan tangan Saya.

Saya tetap bersikeras, memohon dengan berlutut untuk Anisa kembali kepada Saya, tapi Saya tetap ditolak, tangan Saya ditampik dari tangannya, tiba-tiba dari dalam keluar Ibu Anisa, memegang tangan Saya kemudian Saya didorong dengan keras, menjuntai ke tanah, saya dibentaknya dengan suara lantang, 

“PULANG LAH, SIAPA KAU MEMEGANG TANGAN PUTRI SAYA, DIA SUDAH BERKATA TIDAK MAU DENGANMU, PERGI !!! APA KAU TULI ? ANAK SEORANG PETANI YANG TAK TAHU MALU, BERKACALAH PADA CERMIN, SIAPA KAU INI ? PERGI !!!”, Suara itu kencang sekali di depan Saya, pintu dibanting dengan keras, Tas sekolah Saya dilempar ke tubuh Saya. Dengan tubuh yang tersungkur ke tanah, Saya berdiri kembali, Saya mengambil tas Saya dengan surat dari Anisa yang jatuh ke tanah, Saya mendekati sepeda Saya dan melangkah pulang, sebab Saya telah terusir di sini.

-Bersambung-

Advertisements

Author:

I'm Textrovert. Seseorang yang begitu mudah menuliskan namun begitu susah mengungkapkan. Pengagum senja di pangkuan buku dan pena. Tentu saja dengan secangkir teh di samping tangan kanannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s