Posted in Tulisan

Hampa

Gerimis di malam hari, adalah intuisi yang selalu ku jumpai saat menanti sesuatu yang tak kunjung terpenuhi, mengalun pilu, menyendu menunggu kabarmu diantara rutinitasmu. Ya kabar, hanya kabar, itu saja. Mungkinkah kau sanggup memberi ? Atau hanya ribuan caci maki ? Bila memberi kabar bagimu adalah seperti memberi recehan untuk peminta-minta, maka aku bersedia berlutut setiap hari, menengadah meminta setulus hati. Cuih.. Mungkin itulah yang hendak kau beri, namun sayang hanya kau pendam dalam hati. Sampai kapan aku menunggu ? Sampai lelah menjadi jenuh, untuk waktu yang telah berpeluh ? Tapi tenanglah itu tugasku, aku lah yang memilih untuk tetap menunggu.

Aku harus sadar tentang segala kesibukanmu, tentang sebuah peran sebagai wujud tanggung jawab kepada keluarga, masyarakat, teman bahkan Tuhanmu, tapi apakah 24 jam dalam hidupmu yang berselang tak ada beberapa detik untukku bahkan di waktu senggang, sekedar memberi kabar, bahwa kepadaku rasamu tak kau umbar, detik demi detik kian patah, tumbang laksana sapaanmu yang kian menghilang, hingga telah sampai pada titik pucak ku menunggu, terwujud pada pesanmu di layarmu “Sedang apa kamu ?”.

Bukan hal yang tabu bila sehari tak ku dengar kabarmu, merambat dari rangkaian abjad yang terbias mata hingga terdengar ke telinga, berharap waktu senggang untuk sapaanmu terhadapku dapat terngiang, tapi Hampa.

Apakah aku menaruh kecewa ? Belum. 

Aku masih mampu menunggu, mungkin kau sedang sibuk di hari kerjamu, aku tak mau mengganggu segala jerih payahmu, karena itu adalah persiapan masa depanmu, entah itu berjuang untukku atau hanya untukmu, bila semua itu untukku berdo’a adalah caraku untuk membalas segala perjuangmu, aku pun tetap menunggu.

Apakah aku menaruh kecewa ? Belum.

Siang yang menyengat saat kau sedang istirahat, satu abjad dari mu pun tak juga ku lihat, pada arsip pesan yang telah ku sampaikan tak ada satu pun pesan darimu singgah di kotak masukku, menghela nafas itulah yang terjadi, atas sikapmu setiap hari, tapi mungkin kau sedang menghabiskan makan siangmu, berdo’a kepada Tuhanmu dalam keimananmu, hingga ratusan pesanku tak sempat tersentuh jarimu, aku pun tetap menunggu.

Apakah aku menaruh kecewa ? Belum.

Sore menjelang, saatnya bagimu beranjak pulang, di sinilah aku berharap kabarmu akan datang karena mungkin sudah banyak waktu senggang, dan ternyata semua itu hanya menjadi anganku, satu kata darimu pun tak berjumpa denganku, sedang apakah kamu ? Menit berlalu berganti malam yang kelam ! Kabar darimu kian tenggelam, hanya 1 diantara ratusan pesanku yang kau balas, “Aku sudah pulang, aku tidur dulu ya..”, dalam hatiku, Baiklah mungkin lelah sedang menjumpaimu, aku pun mengucap selamat tidur untukmu, rajutan do’a berbaris rapi menjadi pesan yang ku kirim untukmu, Kau harus istirahat, untuk memulihkan syaraf dari segala penat, besok segudang kesibukanmu akan menemuimu.

Apakah aku menaruh kecewa ? Hampir.

Di satu sisi di balik sabarku, kecewa berada setipis kertas jaraknya dengan sabarku, sampai kapan menunggu adalah rutinitasku ? Segudang air mata siap ku adu pada Tuhan di setiap malamku, Tuhan apakah inginku mendapat kabar masih berlebihan ? Aku hanya ingin sedikit terlibat dalam hidupnya. Itu saja.

Hari berganti hari, tak berbeda jauh, menunggu kabarmu selalu menyisakan peluh.

Apakah aku menaruh kecewa ? Iya, sudah. 

Telah sampai pada puncak kesabaranku, kini aku memilih untuk meninggalkan rumahmu, rumah yang tak pernah menyapa hangat untukku. Berdiri sendiri, menyerah melawan sepi. Aku pergi…

Hari berlalu, menunggumu telah terganti aktifitasku, tersenyum atas masa lalu saat aku menunggumu, bersama senyumku berdering handphone ku, satu pesan darimu terbaca “Dimana kamu, aku rindu padamu, kapan bisa bertemu ?”. Ku tutup layarku, Dan “Tuhan, Ku kembalikan dia Kepadamu !”.
Hampa

Han. Y rahmat

18 Agustus 2016

Advertisements

Author:

I'm Textrovert. Seseorang yang begitu mudah menuliskan namun begitu susah mengungkapkan. Pengagum senja di pangkuan buku dan pena. Tentu saja dengan secangkir teh di samping tangan kanannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s