Posted in Tulisan

LDR

LDR

image

Marilah Kita mulai obrolan sore ini dengan kesadaran, bahwa sejauh-jauhnya jarak bukanlah satuan kilometer yang membentang diantara dua pasangan yang sedang menjalin cinta, tapi sejauh-jauhnya jarak adalah tentang pengertian dan kabar yang tak pernah terbagi diantara keduanya. Sudah ? Mari Kita lanjutkan, mungkin barangkali Kau ingin menuang segelas kopi sebelum Kita melanjutkan obrolan ini, jika iya, bolehlah Ku minta segelas teh saja, mari-nya ngeteh, mari Kita bicara. Nyalakan musik untuk background suasana sore ini, barangkali mungkin itu bisa sedikit menenangkan hati. Baiklah mari Kita mulai.

Sore ini, Kita tidak akan berbicara tentang cinta, ternyata bosan juga setiap hari harus menulis dan menyusun paragraf tentangnya, tapi Kita akan berbicara tentang Manusia, manusia yang tangguh dalam menghadapi hidup, manusia yang mampu ditempa ribuan rindu, manusia yang tak pernah lari dihujam sepi. Mereka lah para LDR (Long Distance Relationship), jika diartikan dalam bahasa Kita sehari-hari, berarti Hubungan Jarak Jauh.
LDR, mendengar kata itu mungkin Kita akan tertawa, karena banyak Kita jumpai mereka menjadi bahan candaan untuk ditertawakan, terkadang mereka juga dijadikan bahan untuk beberapa meme di Indonesia. Tapi sebentar saja, simpan dulu segala tawa, mari mencoba persepsi Kita menjadi mereka, untuk mereka yang selalu tertawa, pertanyaan pertama “Apakah Kamu mampu seperti mereka ?”, jawaban mereka mungkin lucu, “Salah sendiri LDR, wong yang gak LDR juga masih banyak !”, oke baiklah, tapi apakah Kamu sadar, bahwa tak selamanya hidup itu memilih, terkadang Kita itu dipilih, sebenarnya mereka juga ingin memilih tidak menjadi LDR, namun mereka dipilih Tuhan untuk memerankannya, menolak peran yang diberikan oleh sang Maha Sutradara ? Menurutku itu bukan ide yang bagus.

Cobalah sekarang sebentar saja menjadi mereka, dihujam ribuan sepi, namun Kamu tidak boleh lari, maksudku sedikit gambaran saja, Ketika mereka berdua sedang asyik berpacaran dan semuanya berjalan baik-baik saja, malamnya si cowok mengajak pacarnya untuk makan malam di tempat spesial mereka, katakanlah bukit bintang patuk, Jogjakarta. Awalnya sih biasa saja, ngobrol, bercanda layaknya orang pacaran pada umumnya, semakin malam sepertinya suasana semakin larut dalam keheningan, tiba-tiba si cowok memegang tangan pacarnya, berlatar ribuan bintang yang menyebar di angkasa, Dia menatap matanya, dengan terbata-bata Dia berkata,” Sayang, Kita harus bicara, mungkin ini yang harus Kita terima, besok Aku akan terbang dan menetap di negara orang, ini semua bukan mau ku, tapi tuntutan atas profesiku, percayalah terbentang jarak yang jauh, tidak akan membuat rasa Kita semakin runtuh, mungkin sekarang matamu akan berkaca tapi esok akan Kita tulis cerita bersama dalam bingkai Keluarga”, begitulah sketsanya, secara tiba-tiba bersenandung lagu lirih melatari suasananya, “Aku hanya pergi tuk sementara… Bukan meninggalkanmu selamanya…”, $%#%$ SKIP !!! Terlalu FTV lah menurutku, tapi paling tidak, bayangkan perasaan si cewek pada saat itu, mengalir sungai air mata di pipinya, saat semua sudah tertata indah, mereka harus terpisah, mungkin saat itu hanya pundak kekasihnya lah tempat bersandar dalam resah.

Apa Kamu sekuat mereka ?

Esok harinya, sang kekasih harus berangkat atas nama bekerja, padahal belum kering air mata perempuannya, Dia harus terpaksa mengantar ke bandara, itulah saat-saat paling berat, pelukan dan genggaman tangan keduanya semakin erat, matanya pun bertambah sembab, mungkin pelukan adalah cara terbaik untuk menyambut perpisahan, udara menjelma berubah menjadi nada-nada kepergian, dengan bertopeng tegar perempuannya berkata, “Pergilah… Jemputlah impian dan kembalilah dengan kebahagiaan, Aku akan tetap menunggu sampai kapan pun itu, sampai tiba kepulanganmu membawa dua kalimat syahadat untukku, yang Kau teriakkan dengan lantang di depan kedua orang tuaku…”.
Sketsa selesai.. Apa hanya di situ saja ? Tentu tidak, Ketika Dia melambaikan tangan, air mata kekasihnya pun jatuh dari kejauhan, melangkahkan kaki pertama dan berpaling dari kebahagiaan. Perempuannya pun beranjak pergi dengan bekas pelukan yg masih membekas di hati, meninggalkan bandara dengan penuh luka dan bersiap menikmati segala macam bentuk kerinduan, tangannya masih saja menggenggam harapan untuk selalu dirindukan dan ditaruh di bawah bantal setiap malam. Mengeja nama kekasihnya sebelum tidur adalah rutinitas tanpa jeda, dan berdo’a adalah cara memeluknya tanpa merangkul raganya.

Apakah Kamu sekuat mereka ?

So kiss me and smile for me.. Tell me that you’ll wait for me.. Hold me like you’ll never let me go..
‘Cause I’m leavin’ on a jet plane, Don’t know when I’ll back again..

Berhari lagu itu mengiringi rasa sepinya, duduk di antara dua jendela, saat di luar bulan sedang menyinari pepohonan, berpangku tangan dan tak pernah berhenti berkata, “Jagalah Dia untukku, Tuhan”. Mereka bisa saja mencintai ribuan hati untuk saling menghibur diri, tapi atas nama janji mereka tak ingin mengingkari, mereka tetap memilih untuk menyendiri, menyendiri menanti setiap kabar yang menghampiri. Menolak segala tawaran cinta yang begitu menggiurkan untuk menanti sebuah kepulangan, yang lamanya belum lah ditentukan. Menjadi seperti ini tentu bukanlah hal yang mudah, bukan ?
Tingkat sepi yang paling sepi adalah sepi dalam keramaian, begitulah setiap hari yang mereka rasakan, menampik segala prasangka untuk menanam benih-benih kepercayaan di dalam pikiran. Percayalah, ini lebih sulit dari sekedar menjada Kesetiaan.

Bagiku, di dalam LDR terselip kata relationship, yang berarti hubungan, kata hubungan berarti haruslah ada mereka yang saling terhubung, bila tidak ada, LDR hanya berarti Long Distance, Jarak yang jauh saja tanpa ada hubungan yang terlibat di dalamnya. Kabar adalah hal yang paling utama di atas segalanya, dan percayalah memberi kabar di sela kesibukan tak semudah mengucapkan. Memang sulit, tapi ketika Kamu mampu memberikan, itu begitu menentramkan. Malam minggu lalu, Tepat di depanku, berdiri perempuan di ujung perahu, Dia tertawa sendirian, seperti halnya bicara pada diri sendiri, satu saja yang terbesit di benakku, Dia hanya ingin berhalusinasi, seolah kekasihnya ada di sampingnya, bagiku sah-sah saja, semua itu lebih baik daripada harus berkawan tembok dan menangis di pojok kamarnya sendiri.

Apa Kamu sekuat Mereka ?

LDR (Long Distance Relationship)
Han. Y Rahmat
01-02-2016

Advertisements

Author:

I'm Textrovert. Seseorang yang begitu mudah menuliskan namun begitu susah mengungkapkan. Pengagum senja di pangkuan buku dan pena. Tentu saja dengan secangkir teh di samping tangan kanannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s