Posted in Tulisan

INGKAR

INGKAR

image

Malam ini kepadamu hatiku, Aku ingin mengucap maaf, atas janji yang pernah terucap selalu setia mendampinginya sampai tutup usia, dan ternyata hari ini Aku mengingkarinya. Aku memilih untuk menyerah, Aku tak bisa terus menerus melawan Aku, yang akhirnya semua akan berujung pada setiap sudut kesalahan, saling menyalahkan untuk mempertahankan keakuan pembenaran pikiran, berlanjut pada caci-makian hingga akhirnya keluarlah kata-kata perpisahan. Aku tak bisa memaksanya untuk tetap tinggal di sini, pada hati yang jelas-jelas tak ingin Dia tempati, mencintai berarti membahagiakan, bila Aku tak mampu bahagia, maka setidaknya Aku membiarkanmu untuk menemukan bahagia, memaksamu untuk hidup bersamaku ? Haha.. Aku tak sejahat itu.

Berawal dari rasa ingin memiliki hingga terucap janji setia menemani sampai mati adalah rangkaian kata yang dulu begitu akrab di telinga, menepis segala sepi dengan kabar yang selalu kita bagi, sekian waktu pun berlalu, kata-kata itu menjadi samar di telingaku, mungkin Kau masih sering mengucapkan itu, hanya saja tak sekeras dulu, dengan alasan tidak nyaman, Kau lantunkan nada-nada perpisahan, Kau mulai mencipta jarak dari sebuah kedekatan, Kau menjadi pelik untuk Ku pahami, Kau menjadi susah untuk Ku mengerti, mungkin Kau sengaja melakukan ini, tanpa alasan, berdua Kau bilang adalah hal yang membosankan. Aku tahu kemana arah dari ucapanmu, benar saja Dia orang yang tak ku kenal hadir diantara Kita, sedangkan dalam cinta yang Aku tahu hanya ada Aku dan Kamu, untuk yang lainnya Aku tak ingin tahu, sedikitpun Aku tak pernah menyalahkan Dia yang hadir dalam hidup Kita, bukankah seorang tamu tak akan masuk, jika si pemilik tak membukakan pintu untuknya ? Namun terkadang Kau lupa bahwa ini adalah rumahku, ketika Kau menghadirkan Dia, Kau tak lagi berhak tinggal di dalamnya, bangunlah sendiri rumah bahagiamu bersamanya, tanpa Aku terlibat di dalamnya.

Aku memilih untuk menyerah, menutup kisah yang tak berujung indah, percayalah Aku tidak benar-benar pergi, Aku hanya berada tepat di belakangmu, bukan di sampingmu, menikmati segala kisah indahmu, melihat lengkung senyum bahagiamu tanpaku, hingga sampai akhirnya Aku mampu membersihkan namamu, tapi untuk itu tak semudah halnya menutup buku. Dalam hidupku namamu telah menjelma menjadi udara, memaksaku untuk selalu menghirup agar Aku tetap hidup, memenuhi seluruh rongga dada dengan namamu, merasuki pikiranku, dan menghadirkan bayanganmu di setiap langkahku, bagaimana mungkin Aku bisa melupakanmu ? Sudahlah itu urusanku, biar Ku pikirkan dengan cara yang entah Aku mampu menepis namamu.

Entahlah, Kau menjadi susah Ku mengerti, Kau begitu susah Ku pahami, jalan pikiranmu terlalu rumit untuk Ku lalui, puncak paling tidak mengertiku adalah saat Kau meminta di luar kuasaku, benar saja Kau memintaku menjadi dirinya, mencintaimu seperti Dia, Maaf kataku, Aku memang mencintaimu, tapi Aku tak akan bodoh merubah diriku untuk mencintaimu, karena Aku ingin mencintaimu dengan caraku, dengan cara sederhana begitu mudah Aku mencintaimu, tapi Kau memilih jalan rumit untuk mencintainya. Pergilah bersamanya, katamu Dia punya segalanya, biarkan Aku tetap di sini, menikmati masa-masa patah hati, menikmati masa-masa sendiri, tenanglah selama Aku masih di belakangmu, Aku akan selalu mencintaimu dari jauh, menjagamu ketika Kau berjalan dan jatuh, atau bahkan ketika Kau rapuh, tapi aku tak akan lama, sampai aku benar-benar mampu menghapus namamu, Aku akan kembali bangkit dan berdiri untuk beranjak pergi dari hidupmu, kelak ketika sampai pada masa itu, jangan mencariku pada kehilanganmu, mungkin aku telah bahagia dengan hidupku. Sehat-sehatlah selalu makanlah teratur untuk setiap geliat manja di perutmu, jagalah kesehatan kekasihmu, sebab Dia bukan Aku, yg secara sadar melukai diri hanya untuk mencintaimu.

Sudahlah, Aku tak ingin merubah keputusanmu dengan tulisanku, Aku hanya ingin suatu saat Kau sadar, entah esok atau pun lusa, Aku pernah mencintaimu secara sabar. Pergilah.. Rumah ini terlalu sempit untuk Kau buat menghias kuku, tapi ingatlah rumah ini terlalu lebar untuk mencipta segala kebahagiaan, dan itu tanpamu..

INGKAR
Han. Y Rahmat
29-01-2016

Advertisements

Author:

I'm Textrovert. Seseorang yang begitu mudah menuliskan namun begitu susah mengungkapkan. Pengagum senja di pangkuan buku dan pena. Tentu saja dengan secangkir teh di samping tangan kanannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s