Posted in Tulisan

RHINDU DAN PULANG

RHINDU DAN PULANG

image

Seperti biasa Aku hanya duduk termenung di tengah jendela, menikmati indahnya sendiri, bersama temaram dan diiringi alunan sepi. Apakah ini wujud dari melukai diri ? Jika ini memang melukai diri, lantas apakah Aku harus berlari dari semua ini ? Percuma kataku, berlari pada halaman rindu yang berjeruji, hanya akan membuat kaki semakin lelah untuk melangkah, ada baiknya Aku hanya Diam saja termenung, sambil menanti setiap senyumanmu yang muncul. Seperti halnya lukisan anak-anak, ada senyuman matahari yang selalu muncul Diantara gunungnya, Ya.. seperti itulah Aku jika dilukiskan dalam lukisan anak-anak, ada gubuk kecil diantara ladang persawahan, mungkin Aku ada di sana, duduk berpangku tangan di dalam gubuk untuk menanti pulangmu. Dibingkai lukisan Aku tak akan ke mana, siang malam Aku tetap di sana, menunggu hadirmu. Mungkin setiap lukisan anak-anak menggambarkan demikian, hanya saja Dia belum mampu menjelaskan. Bernarkah ? Lalu kenapa tidak nampak di lukisan seseorang yang duduk di dalam gubuk ? Mungkin Dia akan menjawab “Bukankah menunggu itu pun tak nampak ? Bukankah hanya rasa yang bergejolak ketika rindu semakin menggelak ?”, Apalagi yang ingin Kau tanyakan ?

Apa yang kupikirkan ketika menunggu ? Haha.. terlalu banyak yang kupikirkan, dan sebagian besar tentangmu, tentang rindu yang selalu menjadi hantu, tentang kepulanganmu yang selalu menjadi harapan yang terwujud dalam do’a yang selalu ku bicarakan dengan Tuhanku, tentangmu yang selalu menjadi peran utama dalam setiap tulisanku. Benarkah seperti itu ? Tidak Aku hanya bercanda, Aku hanya berpura-pura, berpura-pura Aku tak pernah mengharapmu, seolah Aku mampu menepis segala rindu yang menghujam menjadi satu, melawan sepi yang terkadang menjadi parasit dalam hati, memakan setiap rasa percaya yang ku bangun sedikit demi sedikit dari hasil Aku melawan prasangka ku. Dan apakah Kau tahu ? melawan diri sendiri itu jauh lebih perih dari sekedar patah hati. Sekiranya Kau tahu bahwa tak mudah untuk seseorang mampu menunggu, untuk itu Aku terkadang hanya ingin kabarmu di sela-sela ribuan kesibukanmu, hanya ingin memastikan bahwa Kau di sana baik-baik saja, Kau bisa saja menghubungiku di tengah segala kesibukanmu, semua tergantung pada kemauanmu, hanya saja Aku ingin terlibat dalam hidupmu, pada setiap sedih dan bahagiamu. Tapi bila itu terlalu memberatkanmu, maka abaikanlah, biarkan Aku saja yang tetap melawan segala prasangkaku terhadapmu.

Setiap malam Aku terduduk pada bangku kesepian, menikmati alunan malam yang berpadu dengan sepi menjadi satu, semua perlahan menyerangku, pernah sesekali Aku rapuh dan terjatuh, dalam hati enggan berdiri dan menyerah atas segala rindu ini, namun dalam hati selalu bergema kata, “Apakah hanya sampai di situ batasmu ? Bangkitlah dan berjuang untukku, Aku masih mampu menemanimu”, itulah yang selalu bergema di dalam hati, sehingga Aku takut ditertawakan diri sendiri, sehingga Aku putuskan untuk bangkit kembali melawa segala bentuk rasa sepi. Secangkir teh itulah yang selalu menemaniku, menikmati teh ? Tentu tidak, Teh ini akan terasa hambar selamanya, sebelum tercelup senyumanmu. Tenang saja Aku tak pernah melewatkanmu, Aku selalu membuatkan teh untukmu, Aku letakkan pada dimensi semu yang selalu mejadi tempat kita bertemu. Berlatar alunan nada-nada kesepian kita bersulang, begitulah setiap harinya Aku menghabiskan malam. Bersamamu barangkali. Melangkah pun Aku tak bisa jauh, kemana kaki ku berpijak bayanganmu akan selalu jatuh, namun ragamu cukuplah jauh untuk selalu Aku rengkuh. Saat Aku berjalan tertatih hingga akhirnya Aku terlatih, merindumu tetap saja menyisakan perih. Apakah Kau sekuat Aku ?.

Aku masih kuat Aku masih sanggup menahan rindu ini, meski terkadang di sana Kau tak juga mengerti, sampai kapan rasa sepi ini akan berujung ? Mungkin sampai entahnya Tuhan ku ketahui. Merindukanmu adalah hal yang tak mudah, tapi terkadang Aku merasa Kaulah yang seharusnya lebih berat sebagai orang yang dirindukan, benar Aku memang menunggu untuk setiap kepulanganmu, tugasku hanya duduk merenung menanti kabar, berpura-pura seolah Aku bahagia, berdo’a kepada Tuhan atas segala keselamatanmu, itu saja, tapi tugasmu lebih berat, Kau harus meyakinkan Aku untuk menunggu, membuatku tak pernah merasa sia-sia merindukanmu, di dalam hatiku telah terbentang rajutan percaya yang begitu sulit Aku memintalnya, sekali saja rajutan itu Kau robek dengan sikapmu, maka selamanya akan membekas robekannya, mungkin jika terlalu banyak bekas jahitan, tak ada jalan lain, Aku harus menggantinya. Dan percayalah, Aku berusaha tak menggantinya, Pahamilah !!!

-Han. Y Rahmat-
28-01-2016

Advertisements

Author:

I'm Textrovert. Seseorang yang begitu mudah menuliskan namun begitu susah mengungkapkan. Pengagum senja di pangkuan buku dan pena. Tentu saja dengan secangkir teh di samping tangan kanannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s